Followers

SALAM SILATURAHIM

JUMLAH TAMU

JADWAL SHOLAT

Tampilkan postingan dengan label Mutiara Syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Syair. Tampilkan semua postingan

Mereka yang Menangis

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Senin, Oktober 26, 2009 2 komentar


“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang Telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Sahabatku… tahukah kamu bila Allah swt telah berfiman ketika mensifati hamba-hamba-Nya yang beriman yaitu apabila “Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”… Dan bukankah pernah Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan tersentuh oleh api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu kembali ke tempat asalnya. Dan tidak akan berkumpul debu jihad fi sabilillah dengan asap neraka Jahannam”. Bahkan Daud alaihissalam bermunajat kepada Rab-nya; “ya Tuhanku, apakah balasan bagi orang yang menangis karena takut kepada-Mu hingga air matanya mengalir membasahi kedua pipinya”. Lantas apa jawabannya..? Jawabannya adalah: “Balasan baginya adalah akan Aku haramkan wajahnya dari jilatan api neraka, dan akan Aku amankan dia pada hari kiamat”.

Oleh karena itu sahabatku… jika kita renungkan bersama… ternyata tangisan adalah buah syar’i dari sebuah peribadatan. Dan menangis karena takut kepada Allah adalah kunci bagi rahmat-Nya. Dan aku berbicara seperti ini bukan berarti kita tidak boleh menangis… tidak dan seribu kali aku katakan tidak… tetapi kita memang harus menangis… hanya saja pertanyaannya adalah pada hal apa kita menangis.??.. apakah kita menangisi musibah-musibah dan penderitaan-penderitaan yang menimpa kita?… di luar sana… ada orang menangisi ayah… menangisi ibu… menangisi sanak saudaranya… atau bahkan menangisi teman, sahabat, dan kekasihnya…juga ada sebagian orang yang menangisi kerugian harta bendanya… dan di luar sana… di luar sana… di tengah hiruk pikuknya anak adam, ada orang yang menangisi panggung-panggung sandiwara dan sinetron-sinetron asmara… jauh… jauh sekali… sahabatku!!! Demi Allah, antara air mata kita dan air mata mereka…sangatlah jauh… bila kita lihat kisah perjalanan orang-orang mulia…

Sahabatku… sungguh telah menangis Ummu Aiman… telah menangis ummu Aiman di saat Abu Bakar dan Umar mengunjunginya setelah kematian Rasulullah saw. Maka mereka berdua bertanya kepadanya; “Apa yang telah membuatmu menangis wahai ibu?… Apa yang telah membuatmu bersedih wahai ummu Aiman ? bukankah engkau tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi Rasul-Nya? Ummu Aiman terdiam sejenak, kemudian beliau berkata lirih; “ Ya.. benar, aku tahu apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, akan tetapi aku menangis karena terputusnya wahyu dari langit”… Subhanallah seorang Ummu Aiman menangis sedih, takut, dan khawatir akan ummat ini sepeninggal nabinya.

Sahabatku… apa yang aku harus aku katakan tentang mereka dan tentang kisah perjalanan hidup mereka..? diantara mereka ada yang membasahi bumi ini dengan air matanya… diantara mereka ada yang tersungkur wajahnya ketika dibacakan ayat-ayat tentang neraka… bahkan diantara mereka apabila mendengar adzan segera melompat dari ranjangnya…diantara mereka ada yang apabila berwudhu untuk shalat berubah merah wajahnya dan menetes airmatanya… sahabatku… dengarlah.. dan bukalah hati… sebelum engkau membuka telinga ini….

Sahabatku… suatu ketika isteri imam al ‘Auzai menemui suaminya di tempat shalatnya dan dia mendapati sang suami dalam keadaan pakaiannya basah. Melihat isterinya datang menghampiri, maka sang imam pun berkata; “Sungguh kamu lalai terhadap anak-anakmu wahai isteriku, hingga mereka kencing di tempat shalatku. Sang isteripun menjawab; “Celakalah aku duhai suamiku, sungguh ini adalah bekas air matamu di atas tempat shalatmu…

Allah… betapa mahal airmata itu… betapa mahal harganya… dan sungguh sahabatku, hati ini akan semakin hidup dengan mendengar kisah dan perjalanan orang-orang shalih… bahkan merasakan kebahagian dengan menelusuri jejak langkah mereka…

Sahabatku… janganlah-sekali-kali… kau mengatakan bahwa menangis adalah tanda dari jiwa yang lemah… atau kau katakan kalau tangisan tidaklah pantas bagi seorang pemberani dan perkasa. Memang benar… kita tidak pantas menangis dihadapan musuh-musuh kita… dan tidak pantas bagi kita menangis saat mendengar ringkikan kuda perang, dentingan pedang dan anak panah yang berterbangan… karena semua itu adalah sifat sorang pengecut… wahai sahabatku!!!

Namun tangisan yang kumaksudkan adalah.. tangisan ketakutan… kerinduan.. ketundukkan… dan kehinaan… bahkan peribadatan kepada Allah Rab Semesta Alam… dia adalah tangisan penuh kerendahan dan kehinaan di hadapan Rab Yang Maha Kuasa dan Perkasa… dia adalah tangisan penuh ketakutan kepada Dzat Yang Maha Hidup dan tak pernah mati…

Sahabatku…adalah Rasullah saw, beliau shalat sedangkan dadanya bergejolak bagaikan bejana yang mendidih karena tangisannya… sedang dia adalah penghulunya para pemberani… adalah Abu bakar shiddiq radiallhu’anhu… bila berdiri menjadi imam suaranya tak terdengar karena penuh dengan tangisan… namun orang-orang yang murtad sepeninggal Rasulullah saw hancur lebur melalui tangannya yang perkasa… dan tentu saja sahabatku… adalah Umar bin khattab radiallhu’anhu sang Pemisah… dikenal keras dan juga pemberani… namun dengan hati yang lembut dan mata yang berlinangan dalam shalatnya beliau membaca… “Sesungguhnya aku mengadukan keadaanku dan kesedihanku hanya kepada Allah”…

Tidakkah ayat-ayat qur’an membuatmu menangis.. wahai sahabatku…? Tidakkah ayat-ayat qur’an membuatmu menangis… sedangkan ia telah memberitahukan kita… tentang jannah dan kenikmatannya… tentang neraka dan kepedihannya… tidakkah ayat-ayat qur’an menjadikan kulit tubuhmu merinding takut kepada Allah… bukankah Allah yang telah berfirman kepada engkau dan aku… wahai sahabatku; “Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun”.

Sahabatku… kepadanya Rasulullah saw -lah qur’an ini diturunkan… namun, setiapkali beliau mendengar qur’an dibacakan kepadanya… beliau menangis… beliau menangis tatkala dibacakan kepadanya… “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun”. Beliau menangis… Rasulullah saw menangis… menangis berlinangan air mata dan takut… takut kepada Rab Yang Maha Perkasa…. dan berlinangan air mata karena cinta dan belas kasihan terhadap kita ummatnya…

Ya Allah… tidakkah engkau menangis rindu kepada Allah wahai sahabatku… tidakkah engkau menangis rindu kepada Allah… rumah kita kelak adalah jannah yang menanti di sisi-Nya… tidakkah engkau menangis takut tersungkur ke dalam neraka dan di haramkan dari melihat Sang Raja Diraja…

Sahabat… dengarlah apa yang dikatakan Rab kita; “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (melihat) Tuhan mereka”.

Demi Allah… demi Allah… sahabatku, tidak ada di jannah yang paling indah, lezat dan paling agung selain memandang Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang… dan demi Allah… demi Allah… tidak ada azab yang paling pedih dan keras di dalam neraka selain diharamkannya kita dari memandang Wajah Allah Azza wa Jalla… sungguh sahabatku, hati yang salimah tentunya akan terpuruk pedih dan terenyuh takut ketika ia membaca Kalamullah Ta’ala; “Dan bertakwalah kepada Allah dan Ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”.

Sahabatku… adakah kegembiraan yang lebih besar selain bertemu sang kekasih… setiap yang mencinta pasti merindukan kekasihnya… sahabatku… benar bila Ka’ab al Akhbar berkata; “Barangsiapa yang menangis takut dari dosa, maka dia akan diampuni… dan barangsiapa yang menangis rindu kepada Allah, maka dia akan dibolehkan untuk memandang-Nya kapan saja dia mau… sahabatku… barangsiapa yang takut akan api neraka, maka Allah akan melindungi darinya… dan barangsiapa yang menangis rindu kepada jannah, maka Allah akan menempatkannya di dalamnya… ya Allah janganlah kau haramkan kami dari fadhilah-Mu…

Sahabatku…tidakkah kau ingat pesan al musthafa ? “Jangan kalian lupakan al ‘adzimataini!!.. Apakah al ‘adzimatani itu wahai Rasulullah saw? … dia adalah jannah dan neraka… demi jiwa Muhammad yang ada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui tentang akhirat… niscaya kalian akan berjalan mendaki bukit pasir dan akan menutupi kepala kalian dengan debu… beliau pun menangis hingga airmata mengalir di sela-sela janggutnya yang mulia…

Menagislah… akan dosa-dosamu wahai sahabatku… sebelum menangis itu tidak lagi bermanfaat bagimu… tahukah..kamu? bila menangis adalah termasuk dari kunci-kunci taubat… tidakkah kau lihat hati menjadi lembut disaat menangis hingga tumbuh penyesalan… dua mata yang tidak akan pernah tersentuh oleh apai neraka… mata yang senantiasa menangis takut kepada Allah… dan mata yang berjaga-jaga fi sabilillah…

Sahabatku… Di antara pendahulu umat mulia ini ada yang menangis selama 20 tahun karena rindu kepada Rasulullah saw… Ya, menangis selama 20 tahun karena rindu kepada beliau hingga akhirnya bermimpi melihat beliau dalam tidurnya… Sedangkan engkau dan saya, apakah benar kita pernah menangis karena musibah kematian dan kehilangan beliau?… Padahal, Ia adalah musibah yang membuat mata bercucuran dan akal kebingungan. Apakah engkau pernah berangan-angan dan rindu untuk melihat beliau, wahai sahabatku…? Apakah jiwamu sungguh-sungguh berharap dapat mampir ke telaga beliau dan minum dari tangan beliau?

Sementara mereka…mereka orang-orang yang mencintai beliau berkata: “Orang-orang bersenang-senang di dunia, sementara kami, demi Allah, tidak pernah bersenang-senang sepeninggalmu. Dan jika pertemuan di dunia tidak dimungkinkan maka di padang mahsyarlah kami menjumpaimu dan cukuplah itu bagi kami.”

Sahabatku… Renungkanlah peristiwa yang sangat menyentuh hati yaitu kisah orang-orang yang mencintai beliau dengan jujur… Tatkala kaum muslimin usai dari perang Hunain dalam keadaan menang dan meraih ghanimah yang banyak, Rasulullah saw membagi-bagikan ghanimah kepada para muallaf agar keislaman mereka kian teguh… Sementara orang-orang Anshar yang memang telah teguh imannya, Rasulullah saw tidak memberi mereka sedikitpun… Mereka pun bertanya-tanya, kenapa Rasulullah saw tidak membagi mereka dari ghanimah tersebut? Akhirnya mereka saling berbisik satu sama lain. Sa’ad bin Ubadah radhiallahu’anhu mendengar bisikan mereka lalu segera menghadap Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya satu kelompok dari kalangan anshar ini merasa tidak puas terhadapmu karena masalah pembagian ghanimah. Engkau telah membagi kepada kaummu dan memberi kepada kabilah-kabilah arab lain pemberian yang banyak. Sementara engkau tidak memberi sedikitpun untuk kalangan anshar.” Maka Rasulullah saw pun bertanya, “Sedangkan engkau sendiri bagaimana wahai Sa’ad?” Ia menjawab dengan terus terang, “Aku tidak lain adalah salah seorang dari kaumku.”

Kemudian Rasulullah saw berkata kepadanya, “Kalau begitu kumpulkanlah seluruh kaummu!” Setelah mereka berkumpul, Rasulullah saw mendatangi mereka seraya memandang kepada wajah-wajah mereka. Beliau tersenyum pada wajah-wajah mereka dengan senyuman yang berseri-seri. Senyuman yang mengandung pengakuan terhadap jasa-jasa mereka. Kemudian bersabda, “Wahai kaum anshar, telah sampai kepadaku perkataan kalian. Kalian merasa tidak puas dan kecewa terhadapku. Tetapi, bukankah aku datang kepada kalian sementara kalian dalam keadaan tersesat lalu Allah memberi hidayah kepada kalian lewatku? Kalian dalam keadaan miskin lalu Allah membuat kalian kaya denganku? Kalian dalam keadaan saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati-hati kalian denganku?!”

Mereka menjawab, “Benar. Allah dan Rasul-Nya lebih berjasa dan memberi karunia.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku wahai kaum anshar?” Mereka berkata, “Dengan apa kami harus menjawab wahai Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya karunia dan keutamaan.” Maka beliau berkata, “Demi Allah kalau kalian menghendaki kalian bisa berkata dan tentu kalian benar serta dipercaya: Bukankah engkau (wahai Nabi) datang kepada kami dalam keadaan didustakan lalu kami membenarkanmu? dalam keadaan ditelantarkan lalu kami menolongmu? Dalam keadaan miskin lalu kami membantumu? Dalam keadaaan terusir lalu kami melindungimu?…..Wahai kaum anshar, apakah kalian merasa kecewa karena sekelumit dari dunia yang dengannya aku hendak menjinakkan hati suatu kaum agar mereka teguh dalam Islam, sementara aku percayakan kalian terhadap keislaman kalian? Apakah kalian tidak ridha wahai kaum anshar ketika manusia pulang dengan membawa kambing dan onta sementara kalian pulang dengan membawa Rasulullah?! Apakah kalian tidak ridha wahai kaum anshar ketika manusia pulang dengan membawa kambing dan onta sementara kalian pulang dengan membawa Rasulullah?! Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah tentulah aku salah seorang dari kaum anshar. Seandainya orang-orang menempuh satu lereng kemudian kaum anshar menempuh lereng yang lain, tentulah aku akan menempuh lereng kaum anshar. Ya Allah rahmatilah kaum anshar…. Ya Allah rahmatilah kaum anshar…. Ya Allah rahmatilah anak-anak kaum anshar…. Ya Allah rahmatilah cucu-cucu kaum anshar….”

Sahabatku… Mendengar itu semua… kaum anshar pun menangis hingga membasahi janggut-janggut mereka. Air mata mereka bercampur dengan air mata kekasih mereka. Mereka pun berseru disertai Sa’ad bersama mereka, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian dan jatah kami.”

Subhanallah, alangkah mempesonanya pemandangan tersebut. Alangkah mengagumkannya ketika orang-orang yang jujur itu mengungkapkan mahabbah mereka dengan cucuran air mata.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.”

Sahabatku… demi Allah Aku bertanya kepadamu, apakah engkau pernah merasa rindu untuk melihat beliau? Apakah engkau pernah menangis karena sedih ditinggal beliau? Jika engkau seorang pecinta yang jujur, maka sunnah beliau ada di hadapanmu. Inilah jalan hidup beliau (Islam). Laksanakanlah dengan sungguh-sungguh dan jangan engkau remehkan. Jangan engkau kira bahwa sekedar linangan air mata cukup sebagai bukti mahabbah. Bukankah ada air mata-air mata yang dusta seperti halnya saudara-saudara Yusuf telah datang kepada ayah mereka di waktu Isya’ dalam keadaan menangis setelah mereka berbuat kejam terhadap Yusuf dan menuduh serigala sebagai pembunuhnya padahal serigala itu bebas dari tuduhan tersebut.

Sahabatku…, aku tahu bahwa engkau pada hari ini atau hari-hari yang lewat tidak menunaikan shalat subuh berjama’ah di mesjid. Akan tetapi, ketika engkau terbangun dan shalat jama’ah telah usai, apakah engkau menangis serta menyesal? Apakah engkau bertekad untuk merubah cara hidupmu?!

Sesungguhnya perbedaan antara kita dengan orang-orang shaleh sebelum kita adalah air mata mereka itu hangat sementara air mata kita dingin. Air mata yang hangat akan mampu meninggalkan bekas dan merubah jalan hidup. Mereka menangis karena ketinggalan amal-amal shaleh. Sementara air mata yang dingin, bekas hanya sesaat, setelah itu lenyap.

Maha Suci Allah yang telah memuji para pemilik air mata hangat dan menegaskan kejujuran mereka. Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw menyuruh manusia untuk berangkat berperang bersamanya. Kemudian datanglah sekumpulan shahabat yang mereka itu kurang mampu. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah angkutlah kami bersamamu!” Tapi beliau menjawab, “Demi Allah, aku tidak mendapati kendaraan untuk mengangkut kalian.” Mendengar itu mereka berlalu seraya menangis. Berlalu seraya menangis! Terasa berat bagi mereka untuk duduk meninggalkan jihad. Mereka tidak memiliki dana dan kendaraan. Ketika Allah swt melihat keseriusan mereka dalam mahabbahnya terhadap Allah dan Rasul-Nya, Dia-pun menurunkan pemberian maaf untuk mereka dan menjelaskan kejujuran mereka. Maka Allah swt berfirman:

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk mengalahkan orang-orang yang berbuat baik, Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata:”Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta ijin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang yang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).”

Mereka menangis karena tidak mampu ikut berjihad dan mencari syahadah (kematian sebagai syahid). Sementara saya dan engkau, apakah yang membuat kita menangis? Apakah engkau pernah menangis karena penderitaan kaum muslimin di Filipina, Thailan, India, Cina, Palestina???

Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda bahwa kita ini bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggota tubuh tersebut sakit niscaya sekujur tubuh tidak bisa tidur dan demam?! Tidakkah membuatmu menangis suara para janda dan orang-orang tua serta anak-anak yatim?! Tidakkah engkau mendengar seruan dan teriakan Fathimah, seorang perempuan Irak yang dinodai kehormatannya oleh para penyembah salib?! Maka siapakah yang merespon seruannya?! Yang mendengar teriakannya?! Siapakah yang merespon seruan Fathimah, seorang perempuan Palestina dan Fathimah seorang perempuan Chechnya serta Fathimah seorang perempuan Afghan?! Siapakah yang merespon seruan perempuan-perempuan muslimah?!

Demi Allah seandainya engkau merasakan apa yang berjalan di sekitarmu maka engkau tidak akan susah-susah untuk menangis. Karena hati-hati umat Islam yang dizhalimi telah dipenuhi oleh berbagai beban kesusahan dan kezhaliman para penjajah serta kemunafikan para musuh dalam selimut. Ketika engkau merasa bahwa engkau tidak berbuat sesuatu atau tidak mampu untuk berbuat sesuatu maka engkau pasti merasa wajib untuk menangis. Tidak ada yang bisa meringankan membaranya hati selain air mata dan doa. Air mata dzikir, air mata syukur, air mata khasyyah (takut terhadap Allah), air mata al-wala wal bara’ (loyalitas dan benci karena Allah), air mata keterikatan dengan agama yang agung ini.

Demi Allah hati-hati kami tidak akan pernah merasa gembira kecuali apabila al-Aqsha kami telah dibebaskan dan tawanan-tawanan kami telah dilepaskan serta anjing-anjing kotor telah dienyahkan dari Irak kami dan segenap tanah air kaum muslimin dalam keadaan hina dan rendah…!

Ya Allah, tolonglah agama dan kitab-Mu, sunnah nabi-Mu dan hamba-hamba-Mu yang bertauhid. Ya Allah, tolonglah siapa yang menolong ad-Din, kalahkanlah siapa yang menelantarkan hamba-hamba-Mu yang bertauhid. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kecintaan terhadap-Mu, terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, dan terhadap amal-amal yang mengantarkan kami kepada cinta-Mu. Ya Allah, buatlah kami mencintai iman, dan hiasilah ia dalam hati-hati kami. Ya Allah, jadikanlah loyalitas kami terhadap orang-orang yang takut dan bertaqwa kepada-Mu, ya Rabbal ‘alamin.

Read More......

Wahai Saudariku..!!!

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Selasa, Juli 14, 2009 1 komentar


Wahai saudariku,

Kembalilah!

Kembalilah dalam ketaatan sebelum terlambat!

Kematian bisa datang kapan saja.
Bukankah kita ingin meninggal dalam ketaatan?
Bukankah kita tidak ingin meninggal dalam keadaan bermaksiat?
Bukankah kita mengetahui bahwa Allah mengharamkan bau surga bagi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?
Berpakaian tapi tidak sesuai dengan syariat maka itu hakekatnya berpakaian tetapi telanjang!
Tidakkah kita rindu dengan surga?
Bagaimana bisa masuk jika mencium baunya saja tidak bisa?

Saudariku,

Apalagi yang menghalangi kita dari syari’at yang mulia ini?
Kesenangan apa yang kita dapat dengan keluar dari syari’at ini?
Kesenangan yang kita dapat hanya bagian dari kesenangan dunia.
Lalu apalah artinya kesenangan itu jika tebusannya adalah diharamkannya surga (bahkan baunya) untuk kita?

Duhai…

Apa yang hendak kita cari dari kampung dunia?
Apalah artinya jika dibanding dengan kampung akhirat?
Mana yang hendak kita cari?

Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga Allah menjadikan hati kita tunduk dan patuh pada apa yang Allah syariatkan. Dan bersegera padanya…

Read More......

SEINDAH WANITA SHOLEHAH

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Rabu, April 22, 2009 1 komentar



“Indahnya kalammu wanita solehah yang berjuang di sisi mujahid soleh…”

“Seindah perhiasan dunia adalah wanita sholehah,”

Kumulakan catatan ini dengan bait indah yang ditinggalkan Rasululloh SAW kepada seisi alam. Wanita Sholehah! Idaman semua muslimin di alam fana ini.

Alhamdulillah, itulah anjuran Islam yang kita cintai, pilihlah wanita yang mampu menyejukkan pandanganmu dan juga baitul muslim yang bakal dibina ketika sampai saat itu, InsyaAlloh.

“Dinikahi seorang wanita itu karena empat perkara; hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. maka pilihlah hal keagamaannya, maka beruntunglah kedua tanganmu..”

Wanita solehah idaman mujahid soleh yang malunya menjadi perisai dirinya, yang zikirnya menjadi penawar dirinya, tak gentar di kancah godaan duniawi karena dia rindukan wangian syurgawi, dia berpegang pada janji yang terpatri di lubuk hati…..

Telah dinukilkan panduan sepanjang zaman, itulah lirikan utama buatmu memilih calon isteri. Tiap baris itu telah menjadi hafalanku sejak aku mengenali dunia baligh ini.

Jika harta yang kau idamkan, ketahuilah diriku tidak punya apa-apa harta di dunia ini melainkan ilmu agama. Tiada harta untuk kupersembahkan, hanya ketenangan yang mampu aku sediakan buatmu karena aku pernah terbaca kata-kata…

”dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Rum: 21)

Jika keturunan yang mulia itu yang kau dambakan, ketahuilah jua bahwa aku di bawah pengawasan Allah sebagai penjaga mutlak diriku. Aku adalah keturunan mulia, ayahanda Nabi Adam As dan bunda Hawa, sama sepertimu.

”... maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengasihi orang yang bertawakal kepada-Nya. Jika Allah menolong kamu, maka tiada seorangpun yang boleh menghalang kamu, dan jika Ia mengecewakan kamu, maka siapakah yang dapat menolong kamu sesudah Allah (menetapkan demikian)? Dan ingatklah kepada Allah jualah hendaknya orang yang beriman itu berserah diri...” (Ali Imran : 159-160)

Kecantikan, itulah pandangan pertama setiap insan. Malah aku myakini bahwa kau juga tidak terlepas seperti insan yang lain. Ketahuilah, jika kecantikan itu yang kau inginkan dari diriku, kau telah tersalah langkah. Tiada kecantikan yang tidak terbanding untuk kupertontonkan padamu. Telah aku hijabkan kecantikan diriku ini dengan amalan ketaatan kepada tuntutan agama yang kucintai. Kau hanya membuang masa jika kau menginginkan kecantikan lahiriah semata-mata.

Aku memerlukan engkau untuk bersama-samaku menegakkan dakwah islamiyyah ini, dan kau mereklakan diri ini menjadi penolongmu untuk membangun amal dakwah dan jihad ke arah Penciptanya yang agung.

Pendirianku... pernikahanku akan kujadikan medan pencarian ilmu agama sebagai risalah demi meneruskan perjuangan Islam. Aku masih kekurangan ilmu agama, tetapi berbekalkan ilmu agama yang telah dibekalkan ini, aku ingin menjadi isteri yang senantiasa mendapat keridhaan Allah dan suamiku untuk memudahkan aku membentuk usrah muslim antara aku, suamiku dan anak-anak untuk dibaiat dengann ketaatan kepada Allah Yang Maha Esa. Aku bercita-cita bergelar pendamping solehah, seperti mana yang dijanjikan Rasul,

”Semoga Allah memberi rahmat kurnia kepada lelaki yang bangun di tengah malam lalu dia sembahyang dan membangunkan isterinya, maka sekiranya enggan juga bangun untuk bersembahyang, di memercikkan air ke mukanya. Semoga Allah memberi rahmat kurnia kepada wanita yang bangun di tengah malam lalu bersembahyang dan membangunkan suaminya. Maka jika dia enggan dia memercikkan air ke mukanya.” (Riwayat Abu Daud dengan Isnad yang sahih)

Renungilah Firman-Nya ini, lalu kau akan tahu hakikat diriku dan dirimu dipertemukan oleh Allah atas namanya pertemuan.

”Hai sekalian manusia, bertawakalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kami.” (An Nisa’ : 1)

”Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (Wanita), dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (An-Nissa’: 34)

Membenarkan seperti apa yang telah Dia katakan dalam Kalam-Nya yang mulia. Aku meyakini bahwa engkau adalah pemimpin untukku. Jadikanlah suatu pernikahan itu sebagai asas pembangunan iman dan bukanya untuk memuaskan bisikan syaitan yang menjadikan ikatan pernikahan sebagai tujuan nafsu semata-mata. Moga diriku dan dirimu senantiasa didampingin kerahmatan dan keridhaanNya. Lakukanlah tanggung jawabmu itu dengan syura kesabaran, qanaah ketabahan, moga kita akan menjadi salah satu daripada jamaah saf menuju kesyurga, InsyaAllah.

.::. Ya Allah, Gembirakan Kami dengan RidhaMu.::.



Read More......

KEPRIBADIAN ISLAM

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Senin, Maret 16, 2009 0 komentar

Bismillah...



Betapa Indahnya Islam. Allah limpahkan kepada hambanya nilai-nilai hikmah. Dan kemudian nilai hikmah ini diganjarkan pahala apabila diamalkan oleh penganut agamaNya. Maka rugilah mereka yang berpaling dari pada ajaran agung Islam yang maha suci ini.

Senyuman memamerkan bersamanya keikhlasan. Tenangnya membawa rasa damai bernaung di bawah ajaran suci. Rendah dirinya penuh rasa tawadhu’ terhadap kekuasaan Allah Subhanahu wata'ala. Dan kadangkala tercetusnya rasa amarah dalam diri hamba Allah, disertai dengan kesabaran yang dibekalkan melalui pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan seharian.

Umat Islam tidak perlu memaki maki jika marah. Bahasa yang diguna masih indah. Hanya susunan kata yang menggambarkan kemarahan. Hatinya segar mengingat Allah. Semangat kebaikan senantiasa mekar di dalam dada. Hasrat ke arah memelihara silaturrahim senantiasa segar dalam jiwa masing-masing.

Cinta kami, karena Allah, kasih kami karena Allah. Marah kami karena Allah. Dan oleh karena semuanya disandarkan pada Allah Subhanahuwata'ala, maka kaedah umat Islam bergembira, bersahabat, bertolong-tolongan, malahan berperang juga akan mengikut sibghah Allah Subhanahuwata'ala.

Read More......

KEPEDIHAN PENGANTIN DI MALAM PERTAMANYA DAN SETERUSNYA

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Senin, Maret 02, 2009 0 komentar


Bismillah...

Siapakah yang akan menjadi teman untuk seorang pengantin yang memakai helaian kafan?

Malam pertama di alam kubur ditinggalkan sendirian menanggung nasib, meratapi kepergian orang-orang terkasih yang menghantar ke kuburnya. Perpisahan yang tak ada perjumpaan lagi hingga hari kiamat.

Mana anakku, isteri dan saudara yang dulu mengasihiku? Semua hartaku..., siapa yang menghabiskan segala jerih payahku selama ini? Lubang ini terlalu sempit, tempat cacing dan ulat menggigit-gigit. Malam pertama di sini sungguh berat ditanggung sendiri.

****

Malaikat datang membawa urusan penting. Bukan senda gurauan kekasih pada malam pengantin. Tetapi, bentakan yang menciutkan hati dan kekerasan yang memadamkan kegembiraan.

Siapa yang mau menolong, menemani dan membela? Di mana sholat, puasa, haji, dan sedekahku? Datanglah... selimuti aku dari kepedihan siksa ini. Di mana bacaan Al-Qur’an, dzikir, dan kelembutan lidah yang pernah mengeluarkan kata-kata yang baik?

Seluruh tubuh bana yang kaku dan pucat ini. Siapakah yang sanggup memberla mayat menangis di perut bumi, menyesal lantaran tidak menangis ketika bersimpuh di atas bumi.

Sabda Rasulullah Salallahu'alaihi wassalam: ”Orang yang muflis di kalangan umatku ialah: seseorang yang datang pada hari kiamat dengan pahala sembahyang, puasa dan zakat. Tetapi, dia pernah mencaci si fulan, menuduh si fulan, menumpahkan darah si fulan dan memukul si fulan. Maka akan diberikan kepada orang yang teraniaya itu dari pahala kebaikan oran gtadi sehingga apabila habis pahalanya, sedangkan belum semua terbayar, maka akan diambil ganti dari dosa oran gitu dan dibebankan kepadanya dan dia dicampakan ke dalam neraka karenanya.” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).

Mengingat keaiban diri yang terlalu banyak untuk dihitung, mengingat semua orang di sekeliling tidak dapat menolong kecuali amal ibadah yang dilakukan dengan keikhlasan. Tengah malam yang dingin, bangun dan berdiri tanpa diketahui manusia yang terlena mimpi. Sujud dan doa panjang, bacaan al-Qur’an dan dzikrullah juga istighfar. Amalan ini kebiasaan Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam dan sahabatnya. Menjadi anutan orang sholeh pada akhir zaman ini.


Read More......

Beritahu Aku

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Kamis, Februari 12, 2009 1 komentar

Bismillah

Wahai akhifillah, beritahu aku,

kapankah kau akan marah?
Jika milik kita yang suci dihina,
dan tempat kita dihancurkan,
dan kau tidak menjadi marah?

Jika sifat ksatria kita dibunuh,
dan kehormatan kita diinjak-injak,
dan dunia kita berakhir,
dan kau tidak menjadi marah?

Jadi beritahu aku,
kapankah kau akan marah?

Jika sumberdaya kita dirampas,
dan institusi kita diruntuhkan,
dan masjid-masjid kita dihancurkan,
dan masjid al-Aqsa dan al-Quds kita
tetap dirampas,
dan kau tidak menjadi marah?

Jadi beritahu aku,
kapankah kau akan marah?

Musuhku, atau musuhmu,
menghina kehormatan,
darahku dijadikan mainan oleh dia,
dan kau jadi penonton permainan.
Jika untuk Allah, untuk suatu yang suci,
untuk Islam kau tidak marah,

Jadi beritahu aku,
kapankah kau akan marah?

Aku melihat kengerian,
Aku melihat darah mengucur.
Wanita-wanita tua mengiringi
anak-anak menjemput maut mereka.
Aku telah melihat segala macam bentuk penindasan.
Dan kau tidak menjadi marah.

Jadi beritahu aku,
kapankah kau akan marah?

Dan kau duduk seperti boneka bisu,
perutmu memenuhi kantor.
Kau habiskan malam banggakan angka-angka,
dengan uang, curahkan dirimu kepada berkas-berkasnya.
Aku melihat kematian diatas kepala-kepala kami.
Dan kau tidak menjadi marah.

Jadi terus terang saja padaku,
jangan malu-malu:
kamu ada di Ummat yang mana?
Jika kau juga derita, apa yang kami derita,
tidak menjadikan kamu ingin membalas,
maka tidak usah repot.

Karena kamu bukanlah kami, maupun bagian dari kami,
bahkan kamu bukan bagian dari dunia manusia.
Jadi hiduplah sebagai kelinci,
dan matilah sebagai kelinci.

Read More......

Wahai Pemuda Pencela

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Selasa, Januari 27, 2009 6 komentar

Wahai kalian yang mencela para pemuda kami karena jihad mereka...


Wahai kalian yang mencela para pemuda kami karena jihad mereka...

Berhentilah mengecam dan mencela...

Pantaskah dicela orang yang merindukan surga dan semerbak aromanya...

Dia selalu menempuh jalan para penghuninya...

Pantaskah dicela orang yang meninggalkan dunia dan permainannya...

Dia bergegas menuju medan jihad dengan tekad bebas mulia...

Pantaskah dicela orang yang dibeli Allah jiwanya...

Dia mengharapkan surga Firdaus yang kekal tiada fana...

Janganlah kalian mencela jihad dan pembelanya...

Karena itu tanda kemunafikan, maka hati-hatilah dan waspada...

Siapa yang belum pernah meniatkan diri untuk berjihad dan

Juga belum pernah berjihad lalu meninggal dunia, maka ia

Meninggal dunia secara buruk lagi hina...

Sesungguhnya jihad adalah jalan kemuliaan kita...

Meninggalkannya menjadikan hidup kita hina dan menderita...

Disebutkan dalam sunan At-Tirmidzi sebuah hadist dari Abu Hurairah Radiallahuanhu, dia berkata, Rasulullah Salallahu'alaihi wassalam bersabda:
"Barang siapa menghadap Allah Subhanahuwata'ala tanpa memiliki bekas jihad, maka dia menghadap Allah sementara dalam imannya terdapat keretakan."

Read More......

Israel..?, Siapa takut..!

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Kamis, Januari 22, 2009 0 komentar

Perdamaian Semu

Siapa mau..? Perbincangan palestina-israel

Berbulan-bulan lamanya beribu-ribu perjanjian dibuat

Hanya tuk sebuah kata “DAMAI”

Hasilnya…? Semu, siapa mau..?

Kesepakatan damai tercapai, tapi sang dajjal membelot

Dari lembar-lembar perjanjian, siapa mau..?



Rupanya Israel belum puas mengajak kita berperang-perangan

Beradu senjata, tak seimbang..!

Siapa takut..?



Tiada istilah damai dalam kamus perjuangan mujahid

Pada tentara zionis Israel, sang dajjal



“Wahai YAHUD…!

Perjuangan belum berakhir, lihatlah tentara Muhammad

Berdiri tegak di atas tonggak islam

Siap tukarkan darah kesyahidan

Demi Al Aqso, tanah yang di berkati”



“Khaibar-Khaibar ya yahud..! ja’issyu Muhammad saufa ya’ud”

Ingatkah kau dengan Yahya Ayyas..?

Sang insinyur peradaban

Dengan nasihat-nasihat peneguh jiwa

Telah terukir ditubuh mujahid



Hasilnya, Intifadhoh berkobar

Dan prajuritmu..?

Lari terbirit-birit



Mencari tempat persembunyian..

Pengecut…….!



Hanya sebuah ketapel kayu

Menjadi saksi perjuangan

Dan batu-batu bisu

Siap dilemparkan bersama



Demi tepi barat, Jerusalem, Gaza dan Jenin

Yang diambil paksa oleh zionis dan rasa rindu Berjumpa dengan-Nya

Menjadi pemompa semangat perjuangan palestina.

Read More......

ANNASHRU QOODIM…!

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Rabu, Desember 24, 2008 2 komentar


PERTOLONGAN ALLAH PASTI DATANG

“Jika Islam adalah nafas-nafas yang terhembus setiap saat…
jagalah agar ia tetap terhirup dan diri tetap hidup dengannya…

Jika Islam adalah pedang–pedang yang dihunuskan…
jadilah dalang-dalang yang akan memainkannya di medan laga membela kebenaran...

Jika Islam adalah jalan yang panjang...
maka jangan ber-henti sebelum diri temukan penghujungnya yang terang benderang walaupun nyawa taruhannya...

Jika Islam adalah bunga...
maka sebukkanlah rekahnya agar ia terus menebarkan wangi ke seluruh penjuru dunia...

BALDATUN THOYYIBATUN WA ROBBUN GHOFUUR”

Read More......
Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Selasa, November 11, 2008 0 komentar


…diantara milyaran manusia di muka bumi…
inilah kami ya Allah…
puluhan ribu hamba. Hamba Mu yang dzoif
berlumuran dosa merangkak menuju kepada-Mu…
hati yang serasa hancur mengharap curahan rahmat,
ampunan, dan perlindungan Mu.
Selamatkanlah hudup kami di dunia yang sementara ini,
kami pada hari tiada perlindungan melainkan perlindungan-Mu…
hingga kami sampai ke negri abadi…
dalam kasih sayang, maghfiroh dan keridhoan-Mu.
Amiin.

Read More......

ZAMAN KEGELAPAN AKAN SEGERA BERAKHIR!!

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Selasa, November 04, 2008 0 komentar



Tidak ada yang lebih berharga kecuali ILMU
Tidak ada yang lebih bermanfaat kecuali TAQWA
Tidak ada yang lebih berguna kecuali IMAN dan AMAL


Ahlan wa Sahlan yaa Ayyuhal Ikhwah,
kami di hadapan saudara...
Saat ini... melalui media kecil ini.
Risalah kecil, Risalah ilahi yang terkemas dalam media ini...
Untuk ini, karena ini... Allah mempertemukan kita di jalan ini.
Jalan Allah... Islam yang kita cintai...

Saudara, risalah ini sampai kehadapan saudara...
Dengan semangat membara...
Demi tegaknya kalimatullah...
Kita bertemu dalam media ini...
Menyimpulkan tali-tali Ukhuwah Islamiyah...
Saling menasihati dalam kebaikan dan kebenaran...
Semoga semua itu menjadi saksi kebaikan kelak dihari kebangkitan.
Hari dimana tidak ada lagi kesempatan beramal,
Tak guna pula penyesalan.
Hari dimana tak ada pertolongan...
Tak ada lagi perlindungan, kecuali perlindungan Nya.

Jerih payah, tetes keringat, tetes airmata takkan sia-sia...
Karena silaturahim antara kita terpaut.
Persaudaraan, Ukhuwah antara kita terjalin di sini.
Di jalan ini, dijalan Allah ini.
Untuk kebaikan dan kebenaran...
Pertemuan yang bukan lanraran ada untung terlihat.
Bukan lantaran ada materi yang hendak didapat.
Kita dipertemukan disini...
Dijalan ini...
JALAN ALLAH... ISLAM YANG KITA CINTAI SAMPAI MATI


Read More......
Banner 250 x 200

About Me

Foto saya
Menyusuri Kehidupan Duniawi Ini… Terselip Satu Perjuangan Seorang Hamba… Menuju Ketenangan Yang Hakiki… Munajat Diri Mengejar Maghfirah… Mujahadah Dalam Mencari Keridhaan-Nya…

Labels

PESAN MORAL