Followers

SALAM SILATURAHIM

JUMLAH TAMU

JADWAL SHOLAT

Tampilkan postingan dengan label Tinta Emas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tinta Emas. Tampilkan semua postingan

Orang Mulia Itu Keturunan Budak

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Senin, April 04, 2011 0 komentar




Hasan al-Basri menjadi imam, kota Basrah merupakan benteng Islam yang terbesar dalam bidang ilmu pengetahuan. Masjidnya yang agung dipenuhi oleh para Shahabat dan Tabi'in yang hijrah ke kota itu. Halaqah-halaqah keilmuan dengan beraneka ragam yang memakmurkan masjid-masjid. Hasan al-Basri menekuni halaqah Abdullah bin Abbas. Dia mengambil pelajaran tafsir, hadits, qira'ah, fiqh, adab dan bahasa.

Ketika Hasan al-Basri sudah menjadi ulama, banyak umat yang menggali ilmunya, mendatangi majelisnya serta mendengarkan ceramahnya, yang mampu melunakkan jiwa-jiwa yang keras, dan sampai mencucurkan air mata bagi orang-orang yang berbuat dosa. Banyak orang yang terpikat dengan hikmahnya yang mempesona.

Ketika Hajja bin Yusuf At-Tsaqafi berkuasa di Irak, dan bertindak sewenang-wenang dan kejam, Hasan al-Basri adalah termasuk dalam bilangan sedikit orang berani menentang dan mengecam keras akan kezhaliman pengausa itu secara terang-terangan. Saat itu, justru sebagain besar para ulama takut dengan Hajjaj, yang sangat kejam dan berindak dengan keras, terhadap siapa saja yang berani mengkritiknya.

Suatu ketika, Hajjaj membangun istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Ketika pembangunan selesai diundangnya orang-orang untuk melihat dan mendo'akannya.

Hasan al-Basri tak mau menyia-nyiakannya kesempatan yang ada, di mana pasti saat itu pasti banyak orang yang datang dan berkumpul di istana Hajjaj. Maka, Hasan al-Basri tampil dan memberikan ceramah, mengingatkan mereka agar bersikap zuhud di dunia dan menganjurkan manusia untuk mengejar kemuliaan di sisi Allah. Bukanlah kenikmatan dunia yang tidak seberapa dibandingkan dengan kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah di akhirat nanti.

Saat tiba di istana, Hasan al-Basri, melihat begitu banyak orang mengelilngi istana yang megah dan indah dengan halamannya yang sangat lua. Beliau berdiri dan berkhutbah. Diantara isi khutbahnya itu, Hasan al-Basri menyatakan : "Kita mengetahui apa yang dibangun oleh oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Fir'aun yang membangun istana yagn lebih besar dan lebih megah daripada bangunan ini. Namun, Allah membinasakan Fir'aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj sadar bahwa penghuni langit telah membecinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya ..."

Hasan al-Basri tidak berhenti mengkritik Hajjaj, dan terus melanjutkannya: "Wahai saudaraku, Allah Ta'ala telah megnambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia, dan tidak boleh menyembunyikannya", tambahnya.

Keesokannya harinya, Hajjaj dengan penuh amarah, menghadiri pertemuan bersama para pejabatnya, dan berkata keras : "Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorangpun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian wahai para pengecut", ungkapnya.

Lalu, Hajjaj memerintah para pengawalnya untuk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh polisi untuk menangkap Hasan al-Basri. Saat Hasan al-Basri sudah dibawa, semua mata memandang kepadanya, dan mulai hati berdebar. Menunggu nasib yang akan dialami oleh Hasan al-Basri. Begitu Hasan al-Basri melihat algojo yang sudah menghunus pedangnya dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca seseuatu. Kemudian beliau berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan sesorang muslim dan kehormatan seorang da'I di jalan Allah.

Demi melihatketegaran yang demikian hebat, mental Hajjaj runtuh. Padahal, sudah masyhur di seluruh Irak tentang kekejaman Hajjaj. Terpengaruh wibawa dan sikap Hasan al-Basri, dan Hajjaj berkata begitu ramah dengan ulama itu, "Silakan duduk di sini wahai Abu Sa'id, silakan ..", ucap Hajjaj.

Seluruh yang hadir menjadi terbelalak matanya. Melihat perilaku Amirnya (Hajjaj) mempersilahkan Hasan al-Basri duduk di kursinya dengan penuh wibawa. Hajjaj menoleh kearah al-Basri dan menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab oleh Hasan al-Basri dengan jawaban-jawaban yang menarik.

Saat merasa pertemuan itu sudah cukup, dan Hajjaj sudah merasa cukup pertanyaan-pertanyaan agama sudah dijawab oleh Hasan al-Basri, lalu Hajjaj mengantarkan Hasan al-Basri sampai ke depan pintu istana, seraya berkata : "Wahai Abu Sa'id, Anda benar-benar tokoh ulama yang hebat", kata Hajjaj. Kemudian, Hajjaj menyemprotkan minyak ke jenggot al-Basri sambil memeluknya.

Pengawal yang mengantarkan Hasan al-Basri sampai ke pintu gerbang itu, bertanya mengapa Hajjaj tidak sampai membunuhya, padahal dia sudah mempersiapkan algojo? "Ketika apa yang anda baca,wahai Sheikh?", tanya sang pengawal itu. Beliau menjawab, "Ketika itu aku berdo'a, "Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan kesalamatan bagi Ibrahim", pintanya.

Begitulah Hasan al-Basri yang berani menesahati penguasa yang sombong, kejam, dan sangat sewenang-wenang, saat penguasa itu hidup bergelimangan dengan kemewahan, dan ada tanpa takut sedikitpun atas keselamatan jiwanya. Padahal, Hasan al-Basri, tak lain anak seorang budak Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, yang bernama Khairah, yang dinikahi oleh Yasaar budak dari Zaid bin Tsabit.

Sekalipun budak, di dalam Islam, tetap melahirkan keturunan yang mulia, ulama yang amat disegani dikalangan ulama di Basrah, bahkan, yang paling masyhur, kisah Umar bin Abdul Aziz, yang tak lain, juga keturunan seorang budak. Inilah keistimewaan dalam Islam.

Orang-orang yang mulia dapat lahir dari para budak, yang menjadi pembela Islam, dan menegakkan Islam, tidak kemudian nasib mereka menjadi orang-orang yang disisihkan dalam kehidupan nyata. Wallahu'alam.

Read More......

Keagungan Isteri Seorang Mujahid

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Sabtu, April 02, 2011 0 komentar


Lelaki berumur enam puluh tahun itu memasuki rumahnya di Madinah. Nyaris tak mengenali lagi rumah yang pernah ditinggalinya itu. Ia menemukan rumah itu, saat menyusuri jalan-jalan di kota Madinah, yang sudah ramai.

Rumahnya yang sangat sederhana itu, pintunya agak terbuka, dan nampak lengang. Lelaki itu meninggalkan rumahnya, tiga puluh tahun lalu, dan waktu itu isterinya masih belia, dan menjelang melahirkan anak pertamanya.

Lelaki tua itu meninggalkan Medinah pergi berjihad ke negeri yang sangat jauh. Ia berangkat bersama pasukan muslimin. Membuka Bukhara dan Samarkand, dan sekitarnya, yang terletak di Asia Tengah. Begitu jauh perjalanan jihad bersama pasukan muslimin, mengarungi samudera padang pasir, menembus perjalanan beribu-ribu mil dari kota Madinah. Sungguh sangat luar biasa para mujahidin itu. Kepergiannya dengan tekad dan tawakal kepada Allah Azza wa Jalla.

Menjelang Isya’ dengan kuda yang dituganginya itu, prajurit tua itu, memasuki kota Madinah, yang masih ramai, dan melihat kehidupan yang tidak berubah, sesudah ditinggalkannya selama tiga puluh tahun. Namun, ingatannya yang tajam, akhirnya lelaki tua itu, menemukan rumahnya kembali, yang masih tampak sederhana, dan didapati pintunya sedikit terbuka. Kegembiraan menggelayut, dan merasa yakin bertemu dengan kembali dengan isterinya yang lama ditinggalkan itu.

Si penghuni rumah melihat ada orang yang masuk rumahnya, maka lelaki yang ada di atas, langsung melompat, dan turun sambil membentak lelaki tua yang datang itu, “Engkau berani memasuki rumah dan menodai kehormatanku malam-malam, wahai musuh Allah?”. Si penghuni rumah mencengkeram leher lelaki tua, seraya mengatakan, “Wahai musuh Allah, demi Allah aku takkan melepaskanmu kecuali di muka hakim”, sergahnya.

Lelaki tua yang baru datang itu berkata, “Aku bukan musuh Allah dan bukan pernjahat. Ini rumah milikku, kudapati pintunya terbuka lalu aku masuk”. Lelaki tua itu melanjutkan, “Wahai saudara-saudara, dengarkanlah. Rumah ini milikku, kubeli dengan uangku. Wahai kaum, aku adalah Farrukh. Tiadakah seorang tetangga yang masih mengenali Farrukh yang tiga puluh tahun lalu pergi berjihad fi sabilillah?”

Bersamaan itu, ibu si empunya rumah yang sedang tidur itu bangun oleh keributan, lalu menengok dari jendela atas dan melihat suaminya sedang bergulat dengan darah dagingnya sendiri. Lidahnya nyaris tak berucap. Dengan nada yang kuat berseru, “Lepaskan .. lepaskan dia, Rabiah … lepaskan dia, putraku, dia adalah ayahmu .. dia ayahmu … Saudara-saudara sekalian tinggalkan mereka, semoga Allah memberkahi kalian. Tenanglah, Abu Abdirrahman, dia putramu .. dua putramu .. jantung hatimu …

Lalu, Ar-Rabi’ah mencium tangan ayahnya. Orang-orang meninggalkan keduanya. Setelah itu, isterinya Ummu Rabi’ah menyambut suaminya dan memberi salam. Ummu Rabi’ah tak mengira bahwa ia akan bertemu kembali dengan suaminya yang pergi berjihad selama tiga puluh tahun itu.

Saat-saat bahagia antara Farrukh dengan Ummu Rabi’ah, terkadang duduk berdua, sambil bercerita keduanya selama berpisah tiga puluh tahun. Mereka mendapatkan kebahagiaan kembali, keduanya dapat bertemu, meskipun sekarang suaminya telah berumur enam puluh tahun. Namun, saat itu muncul kekawatiran dari Ummu Rabi’ah tentang uang yang pernah dititipkan oleh suaminya dahulu, dan ia harus menjaganya. Karena uang yang dititipkan suaminya itu, habis untuk membiayai pedidikan putranya senilai 30.000 dinar. “Percayakah Farrukh bahwa pendidikan putranya itu menghabiskan 30.000 dinar”, gumam Ummu Rabi’ah.

Selagi pikirannya mengelayut itu, tiba-tiba Farrukh, yang duduk disampingnya itu berkata, “Aku membawa uang 4.000 dinar. Ambillah uang yang akut titipkan kepadamu dahulu. Kita kumpulkan lalu kita belikan kebun atau rumah, dan akan kita ambil sewanya”, ucap Farrukh kepada Ummu Rabi’ah.

Pembicaraan terputus saat adzan datang. Farrukh bergegas menuju masjid, seraya menanyakan, “Mana Ar-Rabi’ah?’ Isterinya menjawab, “Dia sudah lebih dahulu berangkat ke masjid. Saya kira engkau akan tertinggal shalat berjama’ah”. Dia segera shalat, dan sesudah itu pergi ke Rhaudah mutharah, berdo’a di dekat makam Rasulullah, karena betapa rindunya dia dengan Rasulullah.

Saat mau meninggalkan masjid, begitu ramai orang yang sedang mengelilingi seorang ulama, yang belum pernah melihat sebelumnya. Mereka duduk melingkari Sheik itu. Sampai tak ada tempat yang kosong untuk dapat berjalan. Farrukh mengamati, ternyata orang-orang yang hadir, ada yang sudah lanjut usia, anak-anak muda, mereka semua duduk sambil menghamparkan lututnya. Semuanya menghadapkan pandangan kepada Sheikh.

Farrukh itu berusaha melihat wajah Sheikh yang luar biasa itu, tetapi tak dapat, karena begitu banyaknya orang yang mengelilinginya. Sampai saat majelis itu usai. Orang-orang meninggalkan masjid. Kemudian di tengah-tengah suasana yang sudah mulai sepi itu Farrukh bertanya kepada salah seorang yang masih tinggal di masjid itu.

Farrukh: “Siapakah Sheikh yang baru saja berceramah itu?”

Fulan: “Apakah anda bukan penduduk Madinah?”

Farrukh: “Saya penduduk Madinah”.

Fulan: “Masih adakah di Madinah ini orang yang tak mengenal Sheikh yang memberikan ceramah itu?”

Farrukh: “Maaf, saya benar-benar tidak tahu, karena saya sudah meninggalkan kota ini sejak 30 tahun yang lalu, dan baru kemarin tiba”

Fulan: “Tidak apa. Duduklah sejenak, saya akan menjelaskannya. Sheikh yang anda dengarkan ceramahnya itu adalah seorang tokoh tabi’in. Termasuk diantara ulama yang paling terpandang, dialah ahli hadist di Madinah, fuqaha dan imam kami, meksipun masih sangat muda”. Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Abu Hanifah, An-Nu’man, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Sufyan Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-Auza’I, Laits bin Sa’id dan lainnya”.

Farrukh: “Tetapi anda belum menyebutkan namanya?”

Fulan: “Namanya adalah Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi”.

Farrukh: “Namanya Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi?”

Fulan: “Nama aslinya Ar-Rabi’ah, tetapi para ulama dan pemuka Madinah biasa memanggilnya Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi. Karena setiap menjumpai kesulitan tentang nash dari Kitabullah yang tidak jelas, mereka selalu bertanya kepadanya”.

Farrukh: “Anda belum menyebutkan nasabnya?”

Fulan: “Dia adalah Ar-Rabi’ah putra Farrukh yang memiliki kunyah (julukan) Abu Abdurrahman. Tak lama dilahirkan setelah ayahnya meninggalkan Madinah sebagai mujahid fi sabilillah, lalu ibunya memelihara dan mendidiknya. Tetapi sebelum shalat tadi orang-orang ramai mengatakan ayahnya telah datang kemarin malam.”

Tiba-tiba meleleh air mata Farrukh, tanpa lawan bicaranya mengerti mengapa Farrukh melelehkan air matanya.

Sesampai di rumah isterinya Ummu Rabi’ah melihat suaminya meneteskan air matanya, dan bertanya kepada suaminya, Farrukh : “Ada apa wahai Abu Abdirrahman?” Suaminya menjawab : “Tidak ada apa-apa. Aku melihat putraku berada dalam kedudukan ilu dan kehormatan yang tinggi, yang tidak kulihat pada orang lain”, tukasnya.

Di ujung kehidupan itu, Ummu Rabi’ah bertanya kepada suaminya, “Menurutmu manakah yang lebih engkau sukai, uang 30.000 dinar, atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”. Farrukh menjawab : “Demi Allah, bahkan ini lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya”, ucapnya.

Begitulah kisah generasi Tabi’in yang penuh kemuliaan, dan peranan seorang ibu yang ditinggal oleh suaminya berjihad ke negeri yang sangat jauh, selama tiga puluh, dan dapat mendidik putranya menjadi seorang ulama besar dan memiliki ilmu dan kehormatan yaitu Ar-Rabi’ah. Wallahu’alam.

Read More......

Mereka yang Menangis

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Senin, Oktober 26, 2009 2 komentar


“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang Telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Sahabatku… tahukah kamu bila Allah swt telah berfiman ketika mensifati hamba-hamba-Nya yang beriman yaitu apabila “Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”… Dan bukankah pernah Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan tersentuh oleh api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu kembali ke tempat asalnya. Dan tidak akan berkumpul debu jihad fi sabilillah dengan asap neraka Jahannam”. Bahkan Daud alaihissalam bermunajat kepada Rab-nya; “ya Tuhanku, apakah balasan bagi orang yang menangis karena takut kepada-Mu hingga air matanya mengalir membasahi kedua pipinya”. Lantas apa jawabannya..? Jawabannya adalah: “Balasan baginya adalah akan Aku haramkan wajahnya dari jilatan api neraka, dan akan Aku amankan dia pada hari kiamat”.

Oleh karena itu sahabatku… jika kita renungkan bersama… ternyata tangisan adalah buah syar’i dari sebuah peribadatan. Dan menangis karena takut kepada Allah adalah kunci bagi rahmat-Nya. Dan aku berbicara seperti ini bukan berarti kita tidak boleh menangis… tidak dan seribu kali aku katakan tidak… tetapi kita memang harus menangis… hanya saja pertanyaannya adalah pada hal apa kita menangis.??.. apakah kita menangisi musibah-musibah dan penderitaan-penderitaan yang menimpa kita?… di luar sana… ada orang menangisi ayah… menangisi ibu… menangisi sanak saudaranya… atau bahkan menangisi teman, sahabat, dan kekasihnya…juga ada sebagian orang yang menangisi kerugian harta bendanya… dan di luar sana… di luar sana… di tengah hiruk pikuknya anak adam, ada orang yang menangisi panggung-panggung sandiwara dan sinetron-sinetron asmara… jauh… jauh sekali… sahabatku!!! Demi Allah, antara air mata kita dan air mata mereka…sangatlah jauh… bila kita lihat kisah perjalanan orang-orang mulia…

Sahabatku… sungguh telah menangis Ummu Aiman… telah menangis ummu Aiman di saat Abu Bakar dan Umar mengunjunginya setelah kematian Rasulullah saw. Maka mereka berdua bertanya kepadanya; “Apa yang telah membuatmu menangis wahai ibu?… Apa yang telah membuatmu bersedih wahai ummu Aiman ? bukankah engkau tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi Rasul-Nya? Ummu Aiman terdiam sejenak, kemudian beliau berkata lirih; “ Ya.. benar, aku tahu apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, akan tetapi aku menangis karena terputusnya wahyu dari langit”… Subhanallah seorang Ummu Aiman menangis sedih, takut, dan khawatir akan ummat ini sepeninggal nabinya.

Sahabatku… apa yang aku harus aku katakan tentang mereka dan tentang kisah perjalanan hidup mereka..? diantara mereka ada yang membasahi bumi ini dengan air matanya… diantara mereka ada yang tersungkur wajahnya ketika dibacakan ayat-ayat tentang neraka… bahkan diantara mereka apabila mendengar adzan segera melompat dari ranjangnya…diantara mereka ada yang apabila berwudhu untuk shalat berubah merah wajahnya dan menetes airmatanya… sahabatku… dengarlah.. dan bukalah hati… sebelum engkau membuka telinga ini….

Sahabatku… suatu ketika isteri imam al ‘Auzai menemui suaminya di tempat shalatnya dan dia mendapati sang suami dalam keadaan pakaiannya basah. Melihat isterinya datang menghampiri, maka sang imam pun berkata; “Sungguh kamu lalai terhadap anak-anakmu wahai isteriku, hingga mereka kencing di tempat shalatku. Sang isteripun menjawab; “Celakalah aku duhai suamiku, sungguh ini adalah bekas air matamu di atas tempat shalatmu…

Allah… betapa mahal airmata itu… betapa mahal harganya… dan sungguh sahabatku, hati ini akan semakin hidup dengan mendengar kisah dan perjalanan orang-orang shalih… bahkan merasakan kebahagian dengan menelusuri jejak langkah mereka…

Sahabatku… janganlah-sekali-kali… kau mengatakan bahwa menangis adalah tanda dari jiwa yang lemah… atau kau katakan kalau tangisan tidaklah pantas bagi seorang pemberani dan perkasa. Memang benar… kita tidak pantas menangis dihadapan musuh-musuh kita… dan tidak pantas bagi kita menangis saat mendengar ringkikan kuda perang, dentingan pedang dan anak panah yang berterbangan… karena semua itu adalah sifat sorang pengecut… wahai sahabatku!!!

Namun tangisan yang kumaksudkan adalah.. tangisan ketakutan… kerinduan.. ketundukkan… dan kehinaan… bahkan peribadatan kepada Allah Rab Semesta Alam… dia adalah tangisan penuh kerendahan dan kehinaan di hadapan Rab Yang Maha Kuasa dan Perkasa… dia adalah tangisan penuh ketakutan kepada Dzat Yang Maha Hidup dan tak pernah mati…

Sahabatku…adalah Rasullah saw, beliau shalat sedangkan dadanya bergejolak bagaikan bejana yang mendidih karena tangisannya… sedang dia adalah penghulunya para pemberani… adalah Abu bakar shiddiq radiallhu’anhu… bila berdiri menjadi imam suaranya tak terdengar karena penuh dengan tangisan… namun orang-orang yang murtad sepeninggal Rasulullah saw hancur lebur melalui tangannya yang perkasa… dan tentu saja sahabatku… adalah Umar bin khattab radiallhu’anhu sang Pemisah… dikenal keras dan juga pemberani… namun dengan hati yang lembut dan mata yang berlinangan dalam shalatnya beliau membaca… “Sesungguhnya aku mengadukan keadaanku dan kesedihanku hanya kepada Allah”…

Tidakkah ayat-ayat qur’an membuatmu menangis.. wahai sahabatku…? Tidakkah ayat-ayat qur’an membuatmu menangis… sedangkan ia telah memberitahukan kita… tentang jannah dan kenikmatannya… tentang neraka dan kepedihannya… tidakkah ayat-ayat qur’an menjadikan kulit tubuhmu merinding takut kepada Allah… bukankah Allah yang telah berfirman kepada engkau dan aku… wahai sahabatku; “Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun”.

Sahabatku… kepadanya Rasulullah saw -lah qur’an ini diturunkan… namun, setiapkali beliau mendengar qur’an dibacakan kepadanya… beliau menangis… beliau menangis tatkala dibacakan kepadanya… “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun”. Beliau menangis… Rasulullah saw menangis… menangis berlinangan air mata dan takut… takut kepada Rab Yang Maha Perkasa…. dan berlinangan air mata karena cinta dan belas kasihan terhadap kita ummatnya…

Ya Allah… tidakkah engkau menangis rindu kepada Allah wahai sahabatku… tidakkah engkau menangis rindu kepada Allah… rumah kita kelak adalah jannah yang menanti di sisi-Nya… tidakkah engkau menangis takut tersungkur ke dalam neraka dan di haramkan dari melihat Sang Raja Diraja…

Sahabat… dengarlah apa yang dikatakan Rab kita; “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (melihat) Tuhan mereka”.

Demi Allah… demi Allah… sahabatku, tidak ada di jannah yang paling indah, lezat dan paling agung selain memandang Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang… dan demi Allah… demi Allah… tidak ada azab yang paling pedih dan keras di dalam neraka selain diharamkannya kita dari memandang Wajah Allah Azza wa Jalla… sungguh sahabatku, hati yang salimah tentunya akan terpuruk pedih dan terenyuh takut ketika ia membaca Kalamullah Ta’ala; “Dan bertakwalah kepada Allah dan Ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”.

Sahabatku… adakah kegembiraan yang lebih besar selain bertemu sang kekasih… setiap yang mencinta pasti merindukan kekasihnya… sahabatku… benar bila Ka’ab al Akhbar berkata; “Barangsiapa yang menangis takut dari dosa, maka dia akan diampuni… dan barangsiapa yang menangis rindu kepada Allah, maka dia akan dibolehkan untuk memandang-Nya kapan saja dia mau… sahabatku… barangsiapa yang takut akan api neraka, maka Allah akan melindungi darinya… dan barangsiapa yang menangis rindu kepada jannah, maka Allah akan menempatkannya di dalamnya… ya Allah janganlah kau haramkan kami dari fadhilah-Mu…

Sahabatku…tidakkah kau ingat pesan al musthafa ? “Jangan kalian lupakan al ‘adzimataini!!.. Apakah al ‘adzimatani itu wahai Rasulullah saw? … dia adalah jannah dan neraka… demi jiwa Muhammad yang ada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui tentang akhirat… niscaya kalian akan berjalan mendaki bukit pasir dan akan menutupi kepala kalian dengan debu… beliau pun menangis hingga airmata mengalir di sela-sela janggutnya yang mulia…

Menagislah… akan dosa-dosamu wahai sahabatku… sebelum menangis itu tidak lagi bermanfaat bagimu… tahukah..kamu? bila menangis adalah termasuk dari kunci-kunci taubat… tidakkah kau lihat hati menjadi lembut disaat menangis hingga tumbuh penyesalan… dua mata yang tidak akan pernah tersentuh oleh apai neraka… mata yang senantiasa menangis takut kepada Allah… dan mata yang berjaga-jaga fi sabilillah…

Sahabatku… Di antara pendahulu umat mulia ini ada yang menangis selama 20 tahun karena rindu kepada Rasulullah saw… Ya, menangis selama 20 tahun karena rindu kepada beliau hingga akhirnya bermimpi melihat beliau dalam tidurnya… Sedangkan engkau dan saya, apakah benar kita pernah menangis karena musibah kematian dan kehilangan beliau?… Padahal, Ia adalah musibah yang membuat mata bercucuran dan akal kebingungan. Apakah engkau pernah berangan-angan dan rindu untuk melihat beliau, wahai sahabatku…? Apakah jiwamu sungguh-sungguh berharap dapat mampir ke telaga beliau dan minum dari tangan beliau?

Sementara mereka…mereka orang-orang yang mencintai beliau berkata: “Orang-orang bersenang-senang di dunia, sementara kami, demi Allah, tidak pernah bersenang-senang sepeninggalmu. Dan jika pertemuan di dunia tidak dimungkinkan maka di padang mahsyarlah kami menjumpaimu dan cukuplah itu bagi kami.”

Sahabatku… Renungkanlah peristiwa yang sangat menyentuh hati yaitu kisah orang-orang yang mencintai beliau dengan jujur… Tatkala kaum muslimin usai dari perang Hunain dalam keadaan menang dan meraih ghanimah yang banyak, Rasulullah saw membagi-bagikan ghanimah kepada para muallaf agar keislaman mereka kian teguh… Sementara orang-orang Anshar yang memang telah teguh imannya, Rasulullah saw tidak memberi mereka sedikitpun… Mereka pun bertanya-tanya, kenapa Rasulullah saw tidak membagi mereka dari ghanimah tersebut? Akhirnya mereka saling berbisik satu sama lain. Sa’ad bin Ubadah radhiallahu’anhu mendengar bisikan mereka lalu segera menghadap Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya satu kelompok dari kalangan anshar ini merasa tidak puas terhadapmu karena masalah pembagian ghanimah. Engkau telah membagi kepada kaummu dan memberi kepada kabilah-kabilah arab lain pemberian yang banyak. Sementara engkau tidak memberi sedikitpun untuk kalangan anshar.” Maka Rasulullah saw pun bertanya, “Sedangkan engkau sendiri bagaimana wahai Sa’ad?” Ia menjawab dengan terus terang, “Aku tidak lain adalah salah seorang dari kaumku.”

Kemudian Rasulullah saw berkata kepadanya, “Kalau begitu kumpulkanlah seluruh kaummu!” Setelah mereka berkumpul, Rasulullah saw mendatangi mereka seraya memandang kepada wajah-wajah mereka. Beliau tersenyum pada wajah-wajah mereka dengan senyuman yang berseri-seri. Senyuman yang mengandung pengakuan terhadap jasa-jasa mereka. Kemudian bersabda, “Wahai kaum anshar, telah sampai kepadaku perkataan kalian. Kalian merasa tidak puas dan kecewa terhadapku. Tetapi, bukankah aku datang kepada kalian sementara kalian dalam keadaan tersesat lalu Allah memberi hidayah kepada kalian lewatku? Kalian dalam keadaan miskin lalu Allah membuat kalian kaya denganku? Kalian dalam keadaan saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati-hati kalian denganku?!”

Mereka menjawab, “Benar. Allah dan Rasul-Nya lebih berjasa dan memberi karunia.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku wahai kaum anshar?” Mereka berkata, “Dengan apa kami harus menjawab wahai Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya karunia dan keutamaan.” Maka beliau berkata, “Demi Allah kalau kalian menghendaki kalian bisa berkata dan tentu kalian benar serta dipercaya: Bukankah engkau (wahai Nabi) datang kepada kami dalam keadaan didustakan lalu kami membenarkanmu? dalam keadaan ditelantarkan lalu kami menolongmu? Dalam keadaan miskin lalu kami membantumu? Dalam keadaaan terusir lalu kami melindungimu?…..Wahai kaum anshar, apakah kalian merasa kecewa karena sekelumit dari dunia yang dengannya aku hendak menjinakkan hati suatu kaum agar mereka teguh dalam Islam, sementara aku percayakan kalian terhadap keislaman kalian? Apakah kalian tidak ridha wahai kaum anshar ketika manusia pulang dengan membawa kambing dan onta sementara kalian pulang dengan membawa Rasulullah?! Apakah kalian tidak ridha wahai kaum anshar ketika manusia pulang dengan membawa kambing dan onta sementara kalian pulang dengan membawa Rasulullah?! Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah tentulah aku salah seorang dari kaum anshar. Seandainya orang-orang menempuh satu lereng kemudian kaum anshar menempuh lereng yang lain, tentulah aku akan menempuh lereng kaum anshar. Ya Allah rahmatilah kaum anshar…. Ya Allah rahmatilah kaum anshar…. Ya Allah rahmatilah anak-anak kaum anshar…. Ya Allah rahmatilah cucu-cucu kaum anshar….”

Sahabatku… Mendengar itu semua… kaum anshar pun menangis hingga membasahi janggut-janggut mereka. Air mata mereka bercampur dengan air mata kekasih mereka. Mereka pun berseru disertai Sa’ad bersama mereka, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian dan jatah kami.”

Subhanallah, alangkah mempesonanya pemandangan tersebut. Alangkah mengagumkannya ketika orang-orang yang jujur itu mengungkapkan mahabbah mereka dengan cucuran air mata.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.”

Sahabatku… demi Allah Aku bertanya kepadamu, apakah engkau pernah merasa rindu untuk melihat beliau? Apakah engkau pernah menangis karena sedih ditinggal beliau? Jika engkau seorang pecinta yang jujur, maka sunnah beliau ada di hadapanmu. Inilah jalan hidup beliau (Islam). Laksanakanlah dengan sungguh-sungguh dan jangan engkau remehkan. Jangan engkau kira bahwa sekedar linangan air mata cukup sebagai bukti mahabbah. Bukankah ada air mata-air mata yang dusta seperti halnya saudara-saudara Yusuf telah datang kepada ayah mereka di waktu Isya’ dalam keadaan menangis setelah mereka berbuat kejam terhadap Yusuf dan menuduh serigala sebagai pembunuhnya padahal serigala itu bebas dari tuduhan tersebut.

Sahabatku…, aku tahu bahwa engkau pada hari ini atau hari-hari yang lewat tidak menunaikan shalat subuh berjama’ah di mesjid. Akan tetapi, ketika engkau terbangun dan shalat jama’ah telah usai, apakah engkau menangis serta menyesal? Apakah engkau bertekad untuk merubah cara hidupmu?!

Sesungguhnya perbedaan antara kita dengan orang-orang shaleh sebelum kita adalah air mata mereka itu hangat sementara air mata kita dingin. Air mata yang hangat akan mampu meninggalkan bekas dan merubah jalan hidup. Mereka menangis karena ketinggalan amal-amal shaleh. Sementara air mata yang dingin, bekas hanya sesaat, setelah itu lenyap.

Maha Suci Allah yang telah memuji para pemilik air mata hangat dan menegaskan kejujuran mereka. Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw menyuruh manusia untuk berangkat berperang bersamanya. Kemudian datanglah sekumpulan shahabat yang mereka itu kurang mampu. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah angkutlah kami bersamamu!” Tapi beliau menjawab, “Demi Allah, aku tidak mendapati kendaraan untuk mengangkut kalian.” Mendengar itu mereka berlalu seraya menangis. Berlalu seraya menangis! Terasa berat bagi mereka untuk duduk meninggalkan jihad. Mereka tidak memiliki dana dan kendaraan. Ketika Allah swt melihat keseriusan mereka dalam mahabbahnya terhadap Allah dan Rasul-Nya, Dia-pun menurunkan pemberian maaf untuk mereka dan menjelaskan kejujuran mereka. Maka Allah swt berfirman:

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk mengalahkan orang-orang yang berbuat baik, Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata:”Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta ijin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang yang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).”

Mereka menangis karena tidak mampu ikut berjihad dan mencari syahadah (kematian sebagai syahid). Sementara saya dan engkau, apakah yang membuat kita menangis? Apakah engkau pernah menangis karena penderitaan kaum muslimin di Filipina, Thailan, India, Cina, Palestina???

Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda bahwa kita ini bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggota tubuh tersebut sakit niscaya sekujur tubuh tidak bisa tidur dan demam?! Tidakkah membuatmu menangis suara para janda dan orang-orang tua serta anak-anak yatim?! Tidakkah engkau mendengar seruan dan teriakan Fathimah, seorang perempuan Irak yang dinodai kehormatannya oleh para penyembah salib?! Maka siapakah yang merespon seruannya?! Yang mendengar teriakannya?! Siapakah yang merespon seruan Fathimah, seorang perempuan Palestina dan Fathimah seorang perempuan Chechnya serta Fathimah seorang perempuan Afghan?! Siapakah yang merespon seruan perempuan-perempuan muslimah?!

Demi Allah seandainya engkau merasakan apa yang berjalan di sekitarmu maka engkau tidak akan susah-susah untuk menangis. Karena hati-hati umat Islam yang dizhalimi telah dipenuhi oleh berbagai beban kesusahan dan kezhaliman para penjajah serta kemunafikan para musuh dalam selimut. Ketika engkau merasa bahwa engkau tidak berbuat sesuatu atau tidak mampu untuk berbuat sesuatu maka engkau pasti merasa wajib untuk menangis. Tidak ada yang bisa meringankan membaranya hati selain air mata dan doa. Air mata dzikir, air mata syukur, air mata khasyyah (takut terhadap Allah), air mata al-wala wal bara’ (loyalitas dan benci karena Allah), air mata keterikatan dengan agama yang agung ini.

Demi Allah hati-hati kami tidak akan pernah merasa gembira kecuali apabila al-Aqsha kami telah dibebaskan dan tawanan-tawanan kami telah dilepaskan serta anjing-anjing kotor telah dienyahkan dari Irak kami dan segenap tanah air kaum muslimin dalam keadaan hina dan rendah…!

Ya Allah, tolonglah agama dan kitab-Mu, sunnah nabi-Mu dan hamba-hamba-Mu yang bertauhid. Ya Allah, tolonglah siapa yang menolong ad-Din, kalahkanlah siapa yang menelantarkan hamba-hamba-Mu yang bertauhid. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kecintaan terhadap-Mu, terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, dan terhadap amal-amal yang mengantarkan kami kepada cinta-Mu. Ya Allah, buatlah kami mencintai iman, dan hiasilah ia dalam hati-hati kami. Ya Allah, jadikanlah loyalitas kami terhadap orang-orang yang takut dan bertaqwa kepada-Mu, ya Rabbal ‘alamin.

Read More......


Teruntuk putri muslimah putri islami bagi dien ini. “semoga allah SWT senantiasa menjaga kesucian harga dirimu di tengah dahsyatnya finah dan ujian.”.

Ukhti muslimah, Putri islami di negeri pertiwi…

Malam ini ada gelisah yang menyusup kedalam jiwaku.Aku terbangun dengan ikatan -ikatan kecemasan.Mataku berembun sebagaimana kaca jendela kamarku yang setiap malam berbasah embun musim dingin yang begitu dahsyat.Tak ada suara selain teriakan – teriakan batin yang menggema di liang telingaku ketika teringat keadaanmu di negeri pertiwi yang dirudung fitnah begitu besar.

Putri islami dinegeri pertiwi …

Kuambil pena setelah kulantunkan untaian doa.Semoga lantunan pena kegelisahan ini membuat jiwa-jiwamu tersadar akan apa yang sebenarnya kami rasakan. Hingga pena ini tergerak untuk menasihatkan.

Ukhti muslimah…

Jika tarian pena kegelisahan ini terlalu latah dan kering , semoaga tetesan bening yang membersamai tulisan ini bisa menyejukkan suasana hatimu laksana gerimis ketika hadirnya musim panas.

Putri islami yang sedang memegang suratan hati ini , adakah waktu beberapa menit saja di tengah kesibukanmu bersama tugas kuliah? Dan adakah beberapa saat saja untuk meluangkan isi hati dan perasaan demi membaca tarian pena di lembar putih ini? Dan adakah sebentuk kasabaran yang setiap sisinya dihiasi perhatian untuk menyelesaikan suratan hati ini hingga akhir? Kami mohon engkau tak merasa keberatan ataupun waktumu tercuri untuk sekedar mendengarkan suratan hati dari seseorang yang barang kali tak pernah engkau mengenalnya.

Putri islami…

Izinkan tarian pena ini menggores lembut lembaran-lembaran putih ini sebagai lukisan hati kami yang sedang cinta dan cemburu karena allah. Biarkan diri ini berterus terang menuliskan untaian kalimat yang sebelumnya telah kami tulis di lembar hati kami sebelum kami tuangkan di lembar putih ini.Kami pun tak mengerti apakah dirimu merasa senang atau malah benci dengan kehadiran suratan hati ini yang tak pernah kau harapkan sebelumnya.kami serahkan semua kepada pemilik hati setiap jiwa,Allah SWT.

Putri islami …

Sengaja kutulis suratan hati ini untukmu ,karena kami berharap lewat suratan hati ini bisa menjadi wasilah yang membuat harga dirimu mewangi bak melati yang berseri.

Ukhti muslimah…

Kami tulis suratan hati ini disaat hati kami kalut dan resah melihat keaadaanmu. Hingga terkadang hanya elusan dada sebagai rasa iba yang terpendam didalam jiwa.

Bagaimana tidak iba jika setiap hari aku lihat saudari-saudarimu ditelanjamngi auratnya? Ditelanjangi sehelai demi sehelai pakaian harga dirinya di depan jutaan orang sebagai tontonan para penggembira yang mengabdikan kepada hawa nafsu setan.

Bagaimana tidak resah jika tiap waktu slalu kudengar saudari-saudarimu di nodai kehormatannya , bahkan menyerahkan seluruh tubuhnya demi diobral di majalh –majalah murahan yang menjerumuskan ke jurang perzinaan. Jurang yang menjijikkan yang tak pantas dilakukan kecuali para binatang yang tak berakal.

Oh…. bagaimana diri ini tak bersedih menagis bahwa sebenarnya pasukan setan itu menggiring mereka ke lembah–lembah jahannam di balik ketertawaan dan kemasyhuran yang sebenarnya adalah tipuan.

Putri islami di negeri pertiwi…

Tidak tahukah dirimu bahwa ada bening yang menetes hangat membasahi dua pipi ini saat melihat keadaanmu? Akan tetapi seolah dirimu tak pernah mengerti arti sebuah air mata dari seseorang yang mengharapkan kejayan harga dirimu dalam menopang panji islami bagi dien ini. Hingga akhirnya dirimu enggan mendengarkan nasihat yang dengannya mungkin allah menjadikan wasilah kebaikan bagi dirimu di dunia dan akhirat kelak.

Kutulis suratan hati ini sebagai nasihat uintukmu karena allah SWT semata. Kugores saat mulut ini tak sanggup lagi bicara karena saudari-saudarimu yang tertipu itu semakin membabi buta mengumbar aurat didepan pria.Mereka bangga menjadi mangsa srigala-srigala pengumbar cinta dusta. Seakan mereka tak pernah bersedih dan justru bangga menumpuk dosa setiap harinya. Berzina dengan setiap pria yang diinginnya demi memuaskan nafsu bejatnya.Berlenggak lenggok bagaikan cacing yang kepanasan di club-club malam. Menghabiskan hari-hari siang dan malam dengan lantunan musik yang melalaikan. Meninggalkan istananya menuju panggung–panggung hiburan.Wajahnya menghitam dibalik polesan bedak tebal yang tak pernah terbasuh sucinya air wudhu yang mencerahkan.Keningnya telah jauh dari sujud sebagaimana bejat akhlaqnya yang tak karuhan.Berdandan dan berdandan demi laris dalam perzinaan.

Oh… betapa jauhnya mereka dari belaian suami tercinta , karena kekasih mereka adalah srigala yang tajam taring dan kukunya.Tak pernah merasakan nikmatnya bercanda dengan anak tercinta karena rahim mereka telah mereka haramkan dari mengandung anak sebagai anugrah dari Arrahman.Rahim mereka kotor dengan air mani haram dan menjijikan . Naudzu b illahi mindzalik

Wahai putri islami…
Tidak sampaikah kabar yang benar dari langit akan kebanyakan penghuni neraka adalah wanita? Belum datangkah kepadamu akan nasihat dari kitab dan sunnah tentang orang-orang dari kalangan wanita yang di haramkan allah mencium bau jannah? Padahal bau jannah itu tercium dari jarak 500 tahun perjalanan. Itulah para wanita penggembira di dunia tanpa mengindahkan perintahNya.

Putri islami…

Sampai disini aku tak megerti apakah kata–kata ini menembus kerelung hati mu.Hingga membuat dirimu sudi merenung sejenak tuk memperbaiki diri menjadi sesosok muslimah sejati? . Muslimah sejati yang hidupnya bahagia dengan suami setia tercinta hingga di surga. Muslimah sejati yang jiwanya kaya dengan kasih sayang tulus kepada anak tercinta. Dan muslimah sejati yang hidupnya mulia menutup auratnya.

Kuharap masih tersisa secuil kesempatan tuk telusuri pahatan-pahatan pena di lembar putih ini.

Putri islami di negeri pertiwi…

Kutulis suratan hati ini saat nuraniku menjerit dan berteriak kesakitan melihat harga dirimu diinjak–injak oleh anjing–anjing durjana yang setiap saat mengintaimu. Mereka menyembunyikan kebuasan nafsunya di balik kata-kata cinta manis dan menawan. Emansipasi dan persamaan gender yang sebenarnya rayuan gombal. Mereka menyembuyikan semua itu padahal hati mereka penuh dengan makar dan tipuan bejat mereka.

Putri islami di negeri pertiwi…

Kedua mata ini sudah sepat membuka dan menatap hari-hari yang ditaburi kemaksiatan . dan telinga ini pun juga bosan mendengar musik–musik setan yang dihalalkan pengikut kebatilan.Setiap ruang dan waktu musik-musik itu bergema di telinga dengan syair-syair cinta dusta.Di puja-puja dan dihafal para remaja melebihi cintanya terhadap ayat alquran yang mulia. Bahkan ratusan ribu keluar demi menyaksikan konser musik, dengan berdesak-desakan dan berjingkrak ria. Bahkan diantara mereka ada yang meningggal di tempat maksiat bersama iringan suara gitar dan band yang melalaikan.

Putri islami…

Sampai kapan air mata ini kan mongering . Dan sampai kapan kepedihan ini kan berakhir .Aku tak mengerti jawabannya. Yang aku bisa hanyalah memberikan nasihat bagi jiwa-jiwa yang menerimanya . putri islami yang masih tenggelam dalam keterlenaaan , Ku harap engkau segera mengakhiri hari –hari kelabumu dimana bunga-bunga harga dirimu berguguran di tangan kumbang –kumbang tak beradap.

Putri islami…

Biarkan diriku dengan seonggok kesedihan ini meneruskan kembali goresan suratan hatii ini. Dan kalaulah boleh jujur hati ini sering kali menangis melihat putri-putri islami di sembelih rasa malunya dengan pisau–pisau mode, dirobek dengan belati emansipasi dan ditusuk-tusuk dengan pedang persamaan gender. Sungguh mereka telah menghalalkan segala cara.demi tercapai tujuan nafsunya.

Putri islami…

Musuh-musuhmu telah menyaiapkan ribuan wanita yang setia berperang di jalan setan.Mereka memberikan seluruh tubuhnya untuk merusakmu lewat film -film porno majalah-majalah bejat dan jutaan situs terlaknat.Mereka berikan suara indahnya tuk mendendangkan syair-syair setan yang mereka atas namakan dengan cinta. Setiap hari mereka bicara dengan subhat mereka dengan dukungan ratusan media masa.
Putri isalmi yang hatinya masih terbingkai anggun keyakinan bahwa alloh adalah Rabb sesembahanya. Kekhawatiran dan kecemburuan dalam hati ini tidak lain karena kerbanyakan dirimu telah terperngkap di lorong-lorong fujur itu.Bahkan diantara dirimu telah terbuai dengan ungkapan-ungkapan gombal dari para wanita jalang di layar lebar dan majalah kacangan di pinggir jalan .Diantara dirimu telah terlena dengan rasi-rasi bintang yang tak lebih perkataan syirik yang dihiasi dengan ramalan kebatilan

Putri islami…

Kami menghawatirkan karena subhat dalam dirimu akan hijab sebagai pakaian wajibmu dimana mereka memakai kerudung kecil berwarna warni merangsang pandangan mata .Berjalan didepan pria dengan celana jeans dan baju ketatnya.Wajahnya bersolek dan dibumbui parfum yang menyengat setiap orang yang dilaluinya. Mereka tampak islami sebenarnya menodai kemurniaan islam. dibalik kejahiliyahan model baru. Dimanakah mereka diantara hijab islami yang diajarkan Nabi SAW? Dimanakah mereka diantara adab islami yang dicontohkan istri-isteri nabi SAW? Mengapa masih ada muslimah yang bertabaruj bahkan tidak mengenal jilbab sementara al qur’an dia dengar setiap hari?

Putri islami…

Apa yang membuatmu membenci jilbab padahal ia pakaian anggunmu dimata Allah? Apa yang membuatmu ragu dengan jilbab padahal ia menjaga kehormatanmu dari mata-mata jalang . Kenapa engkau lebih menyukai berdandan seronok dengan aurat terbuka menjadi ajang zina mata durjana. Jika bukan ridha Allah ridha siapa lagi yang akan engkau cari?

Putri islami…

Kutulis surat ini untukmu karena ada harga yang harus kau bayar dengan mahal di batas waktu yang tak terhingga.Dan sesungguhnya penggalan nafas yang tak akan kembali ini akan bersaksi dihadapan ilahi. Tapi kenyataannya mengapa masih ada yang begitu tega menggadaikan harga diri dan kehormatan demi selembar uang? Bahkan harga dirinya tak sewangi bunga lagi karena naik turun sesuai pasaran perzinaan

Putri islami…

Akal sehat yang mana yang rela menjual harga dirinya dengan hanya sebotol sampo atau sebutir sabun untuk telanjang di mata jutaan orang. Ah…barang kali engkau terlalu bermimpi menggapai kemasyhuran dan lupa siksaan sebagai tebusan. Tidak tahukah tubuhmu yang setiap hari kau dandani itu telah ditunggu ulat-ulat busuk yang siap menggorogoti? Dan dirimu dikenal orang sebagai bintang perzinaan yang didemeni laki –laki biadab yang berhianat pada istri-istrinya. Apakah engkau suka saat kamatian menjemputmu dan dirimu menjadi maskot dalam kemaksiatan?

Oh…kuharap engkau mengerti suratan hati ini. Bahwa susungguhnya aku sangat ingin engkau masuk islam dengan kaffah. Aku ingin dirimu merasakan secuil iman yang setelah itu engkau tak berpaling kepada kejahiliyahan. Aku ingin engkau meneguk setetes hidayah yang membuat kehausan nafsu birahimu terobati selamanya. Semoga Allah membuatmu mencintai keimanan dan membenci jalan –jalan kejahiliyahan dan kefasikan.

Putri islami…

Kalau bukan dien ini nasihat apa gunanya pena latah ini ku alunkan. Harapanku minimal nasihat ini membebaskan ku dari tuduhan sebagai ”setan bisu” yang ridha dengan kemungkaran. Lebih jauh dari itu semoga suratan hati ini menjadi wasilah dan hujjah yang mengantarkan ke janah abadi bersanding bersama bidadari.

Saudarikun putri isalami…

Kuharap engkau tak bosan membaca suratan hati ini. Nasihat yang jujur apa adanya dari seseorang yang cinta dan cemburu karena Allah dengan harga diri saudarnya . Kalau bukan karena ridha allah tak pernah ku goreskan pena ini untukmu . Semoga setiap kata yang kau baca dapat kau pahami dan bernilai ibadah disisi allah. SWT

Putir islami…

Ingatlah para muslimah di zaman sahabat . ridha Allah dan rosulNya adalah tujuan utama. Tak bergeming menghadapi ocehan orang-orang musyrik dalam memegang diennya. Bersegera meyambut seruan allah , bahkan dalam berbagai moment mereka adalah rijal yang siap membela rosulullah SAW saat di lukai dan di lecehkan kehormatannya. Asma’,Nusaibah, Khansa tak perlu ku ceritakan tentang mereka karena namanya telah telah terukir indah dalam sejarah ummah. Pesona teladan yang mekar mewangi bagi para muslinah sejati.

Putri islami …

Lihatlah sekelilimnngmu tentang keadaan kaum muslimah hari ini. Siapakah diantara mereka yang menjadikan para istri nabi SAW dan sahabat sebagai teladan? Padahal mereka adalah orang –orang yang di janjikan dengan jannah. Bahkan diantara mereka namanya telah tercatat sebagai penghuni surga sedang mereka masih hidup di dunia.

Kenapa wanita-wanita penzina lebih di sukai dan disebut –sebut dari pada sosok mulia itui? Meniru mereka dari gaya rambut dan pakaian serba terbuka. Bahkan jika mereka terpelosok kedalam lembah zina akan mereka ikuti juga. Dimanakah harga diri itu wahai putri islami? Dimankah kesucian diri dari perbuatan busuk itu?

Lihatlah wahai putri islami ,lihatlah dengan matamu yang bersinar betapa ribuan muslimah telah mengabaikan perintah Alloh. Bahkan mereka tak mengerti bahwa jilbab itu wajib sebagaiman solat dan zakat. Bahkan mereka akan berdosa jika mereka enggan memakainya Tapi kebanyakan mereka menutup diri dan mencaci pemilik jiwa yang murni yang menunaikan perintah Alloh. Siapa yang hari ini tak mencibir orang muslimah yang berjilbab besar dan bercadar. Ejekan–ejekan tak senonoh, kata-kata pedas dan menghina, pandangan-pandangan benci dan marah, serta tuduhan-tuduhan ekstrim dan kolot lekat dari mulut-mulut yang mengaku dirinya seorang muslimah

Tidak kah mereka melihat dirinya yang lebih hina dengan bermaksiat kepada alloh setiap harinya? Tidakkah mereka sadar akan ancaman siksa alloh yang begitu perih? Dan tidakkah mereka mengerti bahwa harga dirinya telah membusuk dikelilingi makhluk kotor setan penyembah syahwat?!

Putri islami….

Jika srigala hewan itu hanya menginginkan daging ,tapi srigala manusia menginginkan sesuatu yang lebih berharga dari itu.Dia ingin engkau kehilangan harga diri. Mereka berusaha memburu harga duirimu dan merobek-robek dalam ranjang perzinaan setelah itu engkau ditertawakan karena engkau bagaikan binatang jalang yang tak punya lagi harga diri kemudian dijadikanlah engkau ajang jual beli bagi para penyembah birahi.

Putri islami… jangan tertipu kebusukan makar setan yang dibalut dengan cinta-cinta palsu seperti valentine day. Betapa hari itu telah menjadi sakral bagi penodaan yang berkedok cinta dan kasih sayang. Berapa harga diri telah melayang dalam kepalsuan dan kenaifan.Bahkan mereka mengenangnya sebagai hari bersejarah tentang kebusukan cinta mereka, mencatatnya didalam agenda dan seolah dosa-dosa itu terasa manis saat di kenangnya .Naudzubillahi mindzalik

Tidakkah engkau melihat wanita-wanita kafir penyembah syahwat yang hidupnya bergelimang dengan zina setiap harinya? Bahkan mereka membunuh anak dalam perutnya sebelum ia dilahirkannya? Entah berapa ribu anak yang dibunuh dari berzina, entah berapa ribu pula anak yang hidup tak mengetahui siapa bapaknya. Oh…begitukah yang kau cari wahai putri islami?

Saudariku….
Tak perlu aku ceritakan tentang pacaran yang telah menjadi tuntunan bagi para pemuda umat ini. Hati ini diris-iris ketika masuk dan melihat sosok–sosok pemuda di universitas-universitas islam.Duduk berdua-duaan di kesepian asyik pacaran.
Jilbab gaul yang tak karuhan; pergaulan bebas yang telah dihalalkan. Musik-misik yang dilantunkan pengganti al qur’an . Hanya beberapa gelintir ihwah mahasiswa yang allah selamatkan dari kejahiliyahan itu. Dan itu pun mendapat tekanan dari berbagai kalangan. Semoga alloh teguhka jiwa mereka.


Putri islami …

Tahukah engkau bahwa seseorang akan diadzab karena cinta yang ia sekutukan karena alloh? Fahamkankah dirimu bahwa rindu-rindu palsu itu ibarat kerak dosa didalam qolbu yang menghangi beningnya hatimu dari hidayah allah? Dan mengertikah cinta selain allah itu tidak pernah akan abadi meskipun ibarat Romeo dan Juliet?

Lantas mengapa begitu mudahnya kau obralkan cintamu dengan seseorang yang berkata “I LOVE YOU” untuk merayumu? Kenapa kata-kata itu membuatmu luluh tak berdaya dan kau berikan seluruh dirimu kepada laki laki asing yang bukan suamimu? Kenapa kata kata itu menjadi berhala didalam hatimu dan kau nodai cinta Alloh? Kenapa wahai putri islami kata yang sebenarnya bisikan iblis itu membuat dirimu gelisah tidur dan jiwamu melayang- layang?

Semua itu karena engkau tak mengerti akan cinta Alloh. Dan ruang hatimu kau biarkan kosong dengan cinta-cinta setan. Lupakan kata kata itu dari hatimu kecuali suamimu yang Alloh halalkan sebagai bajumu. Jadikanlah cintamu ladang pahala. Ladang pahala yang tumbuh dari akar-akar ma’rifatulloh. Dan batangnya kuat perkasa menjulang keangkasa dengan tauhidulloh. Jagalah cintamu, awasi jangan pernah lengah hingga engkau berlabuh di dermaga ketenangan jiwa yang bernama pernikahan islami yang diberkahi.

Oh… betapa banyaknya muslimah hancur dengan cintanya yang liar diantantara srigala srigala buas. Demi hawa nafsunya yang berkata atas nama cinta sejati mereka serahkan seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki utuk di nodai. Bahkan demi cinta palsunya ribuan orang rela bunuh diri.

Putri islami…
Cobalah berfiikir bening dan jernih. Tanyakan dengan jujur kepada nuranimu yang lembut itu. Tentang kemasyuran yang kau buru atau pun kebebasan yang kau tuju. Apakah kebebasan yang kau maksud itu kebbebasan berkencan dan berzina, seperti wanita-wanita kafir penyembah syahwat? Apakah berjingkrak ria dikonser musik itu kebebasan yang kau cari? Ataukah berdandan seksi didepan umum itu yang kau maksud? Cobalah tanyakan lagi semua itukah kebahagiaan seorang wanita? Ataukah dengan tunduk dengan syariah alloh Menjadi wanita sholehah yang terjaga auratnya?Yang dibelai suami dengan mesranya kasih sayang dalam keluarga. Begitu juga didamba putra dan putri tercinta dalam membina keluarga bahagia.

Tanyakanlah wahai putri islamiku
Demi Alloh tanyakan kepada pemburu syahwat itu. Apakah mereka rela jika anak cucunya kelak menjadi biduanita yang dihargai dengan selembar uang? Apakah mereka tega meliaht anak anaknya dicengkram srigala srigala buas yang siap merobek harga dirinya? Tanyakan pada mereka yang setiap malam menjual diri di klub klub malam menjadi wanita penghibur. Apakah mereka mendapatkan kebahagiaan dengan tidur bersama laki laki buas dan relakan mereka jika putrinya kelak seperti dia yang tak punya harga? Tanyakan wahai putriku, tanyakan jika engkau masih ragu. Tentang orang yang termahsyur diantara penyembah syahwat itu, tanyakan kepada mereka yang berlenggak-lenggok disorak sorai tepukan tangan jutaan orang. Kebahagiaan seperti apa yang dia cari dibalik keternodaaan harga dirinya.

Putri islami…

Kenapa kebanyakan engkau tak sadar bahwa kebanyakan wanita telah menjadi barang dagangan di tangan penyembah syahwat, Lihat dan bukalah matamu disepajang jalan penuh dengan pampangan wanita telanjang disapu mata sembarang orang. Lihat wahai putriku disetiap produk barang kecantikan wanita dijual dengan kemurahan. Dan iklan tv pun setiap detik seolah tak berhenti memamerkan aurat wanita. Siapakah diantara bintang tv yang paling terkenal? Tidak lain wanita yang paling berani menjual hargadirinya. Dan tak perlu kau tanya tentang koran murahan dan majalah rendahan disudut-sudut jalanan yang memamerkan wanita telanjang penghibur preman jalanan.

Apa yang kau cari wahai putri islamiku di balik semua itu.Apa yang kau dapat dengan berkencan dan foto bersama dengan orang orang fasik pembela musik. `
Apa gunanya menghabiskan masa mudamu dengan pacaran bersama laki laki yang belum tentu jadi suamimu?

Putri islamiku…

Ku harap engkau masih bersamaku hingga akhir suratan hati ini. Aku selalu dirudung duka dan dibalut rasa resah selama dirimu tak mau mengerti atau kau anggap angin lalu tentang apa yang aku ungkapkan di lembar putih ini. Bukannya diri ini ingin dikenang, sama sekali tidak wahai putri islamiku. Aku tidak ingin setiap muslimah menjadi mangsa bagi srigala srigala buas penyembah syahwat dan aku tidak ingin mereka nantinya menyesal karena merasa mengkhianati calon suaminya meskipun mereka tak mengetahuinya saat ini.

Putri islami …

Jika fitrahmu yang lembut itu masih murni, dan jika nalurimu yang halus itu belum terkoyak dan ternodai aku yakin, ya demi Alloh aku yakin engkau akan menemukan jalan kembali dari kebimbangan yang engkau hadapi. Tidak lain dan tidak bukan dengan mengetuk pintu Alloh yang terbuka bagi siapa saja siang dan malam.

Saudariku berhentilah dari kefujuran itu. Engkau adalah calon ibu yang menjadi teladan bagi putra-putrimu. Jauhilah teman dan tempat tempat yang menyeretmu kejurang kehinaan. Dan mulailah mengenal Alloh dengan menuntut ilmu dihalaqoh halaqoh kajian keislaman.

Putri islami…

Temanilah jiwa jiwa yang tegar yang menjaga syariah Alloh. Dan saling menasihatilah dalam ketaqwaan dan kesabaran.

Putri islami…

Setelah kau baca suratku ini aku berdoa semoga engkau menjadi permata yang selalu berkilau menyejukkan pandangan suamimu yang sholeh. Begitu juga menjadi teladan bagi keluargamu dan anak anakmu. Hingga bias pelangi islam yang indah itu menghiasi setiap rumah tanggamu.

Dan maafkan aku jika kata kata dilembar putih ini terlalu hambar dan kasar. Namun akau yakin engkau lebih tahu apa yang harus kau lakukan setelah membaca suratku ini. Memang tak pantas diri ini menulis banyak karena memang bukan ulama yang pantas menuliskannya. Bukan pula seorang pujangga yang kata-katanya bagai mutiara gemerlap didalam jiwa. Namun aku hanya seorang yang ingin menyampaikan nasihat kepada saudaranya satu agama.

Jika pena yang latah ini menuliskan kata kata yang mengiris pilu hatimu.maka bukan itu maksudku suratan hati ini tak lebih hanyalah wasilah yang semoga bersamaan membaca surat ini membersamai pula turunnya hidayah atas dirimu. Ya aku sangat berharap seperti itu.

Putri islami…

Engkau mempunyai andil yang besar dalam meretas jalan panjang perjuangan. Entah apa jadinya jika wanita muslimah bertingkah laksana wanita kafir yang Alloh janjikan jahanam. Sekali kali jangan lah engkau tertakjub, dimata Alloh mereka tak ada harganya dengan wanita budak yang beriman. Keindahan sejati itu bukan diwajah dan tubuh tapi dalam kesholehahan dan akhlak yang terpuji. Engkau lah seharusnya pemilik keindahan itu. Ya, hanya engkau wahai putri islami.

Dan inilah akhir dari suratan hatiku. Mudah mudahan akhir surat ini mengakhiri pula kebimbanganmu untuk memutuskan menjadi muslimah sejati. Begitu juga menjadi akhir dari hari-hari lalumu yang penuh kejahiliyahan.

Saudariku tak ada yang terlambat untuk menjadi muslimah sejati. Buang kata kata, ” Tapi aku belum mantap, nanti keluarga ku gimana?”. Tak ada kata “nanti“ bagi pribadi yang ingin mekar mewangi. Dan tak ada kata “tapi” untuk merubah diri lebih berseri.

Saudariku…
Alloh setia menanti taubatmu setiap pagi siang serta sore dan malam hari. Segeralah bertaubat sebelum mentari terbit dari barat.atau nyawa telah sampai ditenggorokan.

Sekarang katakan pada dirimu sendiri :
“AKU HARUS MENJADI MUSLIMAH SEJATI, HARUS DAN HARUS APAPUN YANG TERJADI”.
Saudariku aku sangat yakin dengan dirimu. Kau bisa mewujudkan cita cita mulia itu. PERCAYALAH..!!!


Ketika senja merekah dikota sona’a
YAMAN 2009.
Dari saudaramu yang cemburu karena Alloh atas harga diri saudaranya yang dinodai.


Read More......

Syafa’atmu

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Senin, April 06, 2009 0 komentar

Ya Rasululloh... Kami Nantikan
Di Suatu Masa Hari Pembalasan




Hari itu pada Haji Wada’, sebuah ayat turun, “…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3)

Para sahabat bergembira, mereka bersorak “Agama kita telah sempurna, agama kita telah sempurna”. Kegembiraan yang memuncaki 23 tahun perjuangan dengan segenap suka dan duka.

Di tengah kerumunan manusia pada hari Haji itu, seorang sahabat mulia justru bersedih. Abu Bakar As-Siddiq, perasaan yang halus, dan dengan segenap keistimewaan yang ia miliki, ia menangis. Ia memahami di balik kesempurnaan pasti ada kesudahan. Ia menyadari, tak lama lagi Sang Rasul yang di cintai akan meninggalkan dunia, meninggalkan para sahabat, kembali ke haribaan Alloh Subhanahu wata'ala.

Tangis sedih Abu Bakar di dengar para sahabat. Setelah Abu Bakar menjelaskan mengapa ia menangis, para sahabat pun menangis. Berapa menyedihkan, Sang Kekasih tercinta, bertahun-tahun hidup dan berjuang bersama, segenap kesulitan dan kemudahan dilalui dalam persaudaraan yang tak ada duanya, tidak lama lagi akan tiada, meniggalkan dunia yang fana.

Mengetahui para sahabat menangis, Rasululloh bergegas mendatangi mereka. Di depan para sahabat Rasululloh Sallallohu 'alaihi wassalam berkata: ”Semua yang dikatakan Abu Bakar RadiAllohu Anhu adalah benar dan sesungguhnya masa untuk aku meninggalkan kamu semua telah hampir dekat”.

Mendengar perkataan Sang Rasul, Abu Bakar kembali menangis hingga kemudian tak sadarkan diri, tubuh Ali bin Abi Thalib bergetar, dan sahabat lainnya menangis sekuat yang mereka bisa.

****

Beberapa masa kemudian Rasululloh sakit. Kota Madinah berada dalam suasana kesedihan. Di suatu Subuh, setelah adzan, Bilal bin Rabah radiallohuanhu bergegas menuju kediaman Rasululloh, disana Fatimah radiallohuanha menyambut Bilal dan berkata, ”Jangan kau ganggu Rasululloh, kondisinya sedang payah”. Bilal kembali ke masjid, di sana masih tak ada yang sanggup menggantikan Sang Rasul menjadi Imam shalat Subuh.

Semua yang hadir di masjid diselimuti kesedihan. Kali kedua, Bilal kembali mendatangi kediaman Nabi, dan Fatimah kembali mencegah Bilal bertemu Nabi karena kondisi Nabi sedang buruk. Bilal menjawab, ”Subuh hampir tiada, tak ada yang dapat memimpin shalat”.

Dari dalam kamar Rasululloh mendengar percakapan tersebut dan memerintahkan agar Abu Bakar menjadi Imam shalat Subuh. ”Abu Bakar terus menangis” seru Bilal. Rasululloh pun bergegas ke masjid dipapah oleh para sahabat.

Mesjid penuh sesak oleh kaum Muhajirin beserta Anshar. Ada sosok cinta di sana, kekasih yang baru saja terbangun dari sakitnya yang membuat semua sahabat tak melewatkan kesempatan ini.

Setelah mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar. Suaranya basah, menyenandung puji dan kesyukuran kepada Alloh yang maha pengasih.

Senyap segera saja datang, mulut para sahabat tertutup rapat, semua menajamkan pendengaran menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi yang baru berada lagi. Semua menyiapkan hati, untuk disentuh serangkai hikmah.

Selanjutnya Nabi bertanya. ”Wahai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, siapkah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil qisash, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik”.

Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal. Apapun yang dilakukan Nabi, selalu saja indah. Segala hal yang diperintahkannya, selalu membuihkan bening sari pati cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski saja secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan untuk membela Al-Musthafa.

Melihat semua yang terdiam, nabi mengulangi lagi ucapannya, kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah Ukasyah Ibnu Muhsin.

Ya Rasul Alloh, Dulu Aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, wahai kekasih Alloh, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesunguhnya engkau memukul lambung sampingku ucap Ukasyah.

Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh sang kekasih.

Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasululloh. Segera setelah sampai, cambuk diserahkannya kepada Rasul mulia. Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan Ukasyah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.

Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas sejak dari tadi, dialah Abu Bakar.

Dan yang kedua, sosok pemberani, yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Umar bin Khaththab. Gemetar mereka berkata: Hai Ukasyah, pukulah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau ingin, qisashlah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul.

”Duduklah kalian sahabatku, Alloh telah mengetahui kedudukan kalian”, Nabi memberi perintah secara tegas. Kedua sahabat itu lunglai, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok Ukasyah dengan pandangan memohon. Ukasyah tidak bergeming.

Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi Thalib tak tinggal diam. Berdirilah ia di depan Ukasyah dengan berani. Hai hamba Alloh, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan qisash Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku.

”Alloh Subhanahu wata'ala sesungguhnya tahu kedudukan dan niatmu wahai Ali, duduklah kembali”. Ucap Nabi.

Hai Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami adalah cucu Rasululloh, kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk kami, itu artinya mengqisash Rasul juga.

Kini yang tampil di depan Ukasyah adalah Hasan dan Husain. Tetapi sama seperti sebelumnya Nabi menegur mereka. ”Wahai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian kepadaku. Duduklah”.

Masjid kembali di telan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi Ukasyah mengambi qisash. Wahai Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil qisash, inilah ragaku, Nabi selangkah maju mendekatinya.

”Ya Rasul Alloh, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu”.

Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan gamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasululloh. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.

Melihat tegap badan manusia yang maksum itu, Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta di rengkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. Ukasyah menangis gembira, Ukasyah bertasbih memuji Alloh, Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, tebusanmu, jiwaku ya Rasul Alloh, siapakah yang sampai hati mengqisash manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Alloh dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka.

Dengan tersenyum, Nabi berkata: ”Ketahuilah wahai manusia, sesiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”.

Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Alloh. Sedangkan yang lain berebut mencium Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali.

Wahai, Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga. Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.


Read More......

ZAMAN KEGELAPAN AKAN SEGERA BERAKHIR!!

Diposting oleh Tim Embun Tarbiyah Selasa, November 04, 2008 0 komentar



Tidak ada yang lebih berharga kecuali ILMU
Tidak ada yang lebih bermanfaat kecuali TAQWA
Tidak ada yang lebih berguna kecuali IMAN dan AMAL


Ahlan wa Sahlan yaa Ayyuhal Ikhwah,
kami di hadapan saudara...
Saat ini... melalui media kecil ini.
Risalah kecil, Risalah ilahi yang terkemas dalam media ini...
Untuk ini, karena ini... Allah mempertemukan kita di jalan ini.
Jalan Allah... Islam yang kita cintai...

Saudara, risalah ini sampai kehadapan saudara...
Dengan semangat membara...
Demi tegaknya kalimatullah...
Kita bertemu dalam media ini...
Menyimpulkan tali-tali Ukhuwah Islamiyah...
Saling menasihati dalam kebaikan dan kebenaran...
Semoga semua itu menjadi saksi kebaikan kelak dihari kebangkitan.
Hari dimana tidak ada lagi kesempatan beramal,
Tak guna pula penyesalan.
Hari dimana tak ada pertolongan...
Tak ada lagi perlindungan, kecuali perlindungan Nya.

Jerih payah, tetes keringat, tetes airmata takkan sia-sia...
Karena silaturahim antara kita terpaut.
Persaudaraan, Ukhuwah antara kita terjalin di sini.
Di jalan ini, dijalan Allah ini.
Untuk kebaikan dan kebenaran...
Pertemuan yang bukan lanraran ada untung terlihat.
Bukan lantaran ada materi yang hendak didapat.
Kita dipertemukan disini...
Dijalan ini...
JALAN ALLAH... ISLAM YANG KITA CINTAI SAMPAI MATI


Read More......
Banner 250 x 200

About Me

Foto saya
Menyusuri Kehidupan Duniawi Ini… Terselip Satu Perjuangan Seorang Hamba… Menuju Ketenangan Yang Hakiki… Munajat Diri Mengejar Maghfirah… Mujahadah Dalam Mencari Keridhaan-Nya…

Labels

PESAN MORAL