Followers

SALAM SILATURAHIM

JUMLAH TAMU

JADWAL SHOLAT

Orang Mulia Itu Keturunan Budak

Diposkan oleh Tim Embun Tarbiyah Senin, April 04, 2011 0 komentar




Hasan al-Basri menjadi imam, kota Basrah merupakan benteng Islam yang terbesar dalam bidang ilmu pengetahuan. Masjidnya yang agung dipenuhi oleh para Shahabat dan Tabi'in yang hijrah ke kota itu. Halaqah-halaqah keilmuan dengan beraneka ragam yang memakmurkan masjid-masjid. Hasan al-Basri menekuni halaqah Abdullah bin Abbas. Dia mengambil pelajaran tafsir, hadits, qira'ah, fiqh, adab dan bahasa.

Ketika Hasan al-Basri sudah menjadi ulama, banyak umat yang menggali ilmunya, mendatangi majelisnya serta mendengarkan ceramahnya, yang mampu melunakkan jiwa-jiwa yang keras, dan sampai mencucurkan air mata bagi orang-orang yang berbuat dosa. Banyak orang yang terpikat dengan hikmahnya yang mempesona.

Ketika Hajja bin Yusuf At-Tsaqafi berkuasa di Irak, dan bertindak sewenang-wenang dan kejam, Hasan al-Basri adalah termasuk dalam bilangan sedikit orang berani menentang dan mengecam keras akan kezhaliman pengausa itu secara terang-terangan. Saat itu, justru sebagain besar para ulama takut dengan Hajjaj, yang sangat kejam dan berindak dengan keras, terhadap siapa saja yang berani mengkritiknya.

Suatu ketika, Hajjaj membangun istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Ketika pembangunan selesai diundangnya orang-orang untuk melihat dan mendo'akannya.

Hasan al-Basri tak mau menyia-nyiakannya kesempatan yang ada, di mana pasti saat itu pasti banyak orang yang datang dan berkumpul di istana Hajjaj. Maka, Hasan al-Basri tampil dan memberikan ceramah, mengingatkan mereka agar bersikap zuhud di dunia dan menganjurkan manusia untuk mengejar kemuliaan di sisi Allah. Bukanlah kenikmatan dunia yang tidak seberapa dibandingkan dengan kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah di akhirat nanti.

Saat tiba di istana, Hasan al-Basri, melihat begitu banyak orang mengelilngi istana yang megah dan indah dengan halamannya yang sangat lua. Beliau berdiri dan berkhutbah. Diantara isi khutbahnya itu, Hasan al-Basri menyatakan : "Kita mengetahui apa yang dibangun oleh oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Fir'aun yang membangun istana yagn lebih besar dan lebih megah daripada bangunan ini. Namun, Allah membinasakan Fir'aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj sadar bahwa penghuni langit telah membecinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya ..."

Hasan al-Basri tidak berhenti mengkritik Hajjaj, dan terus melanjutkannya: "Wahai saudaraku, Allah Ta'ala telah megnambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia, dan tidak boleh menyembunyikannya", tambahnya.

Keesokannya harinya, Hajjaj dengan penuh amarah, menghadiri pertemuan bersama para pejabatnya, dan berkata keras : "Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorangpun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian wahai para pengecut", ungkapnya.

Lalu, Hajjaj memerintah para pengawalnya untuk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh polisi untuk menangkap Hasan al-Basri. Saat Hasan al-Basri sudah dibawa, semua mata memandang kepadanya, dan mulai hati berdebar. Menunggu nasib yang akan dialami oleh Hasan al-Basri. Begitu Hasan al-Basri melihat algojo yang sudah menghunus pedangnya dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca seseuatu. Kemudian beliau berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan sesorang muslim dan kehormatan seorang da'I di jalan Allah.

Demi melihatketegaran yang demikian hebat, mental Hajjaj runtuh. Padahal, sudah masyhur di seluruh Irak tentang kekejaman Hajjaj. Terpengaruh wibawa dan sikap Hasan al-Basri, dan Hajjaj berkata begitu ramah dengan ulama itu, "Silakan duduk di sini wahai Abu Sa'id, silakan ..", ucap Hajjaj.

Seluruh yang hadir menjadi terbelalak matanya. Melihat perilaku Amirnya (Hajjaj) mempersilahkan Hasan al-Basri duduk di kursinya dengan penuh wibawa. Hajjaj menoleh kearah al-Basri dan menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab oleh Hasan al-Basri dengan jawaban-jawaban yang menarik.

Saat merasa pertemuan itu sudah cukup, dan Hajjaj sudah merasa cukup pertanyaan-pertanyaan agama sudah dijawab oleh Hasan al-Basri, lalu Hajjaj mengantarkan Hasan al-Basri sampai ke depan pintu istana, seraya berkata : "Wahai Abu Sa'id, Anda benar-benar tokoh ulama yang hebat", kata Hajjaj. Kemudian, Hajjaj menyemprotkan minyak ke jenggot al-Basri sambil memeluknya.

Pengawal yang mengantarkan Hasan al-Basri sampai ke pintu gerbang itu, bertanya mengapa Hajjaj tidak sampai membunuhya, padahal dia sudah mempersiapkan algojo? "Ketika apa yang anda baca,wahai Sheikh?", tanya sang pengawal itu. Beliau menjawab, "Ketika itu aku berdo'a, "Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan kesalamatan bagi Ibrahim", pintanya.

Begitulah Hasan al-Basri yang berani menesahati penguasa yang sombong, kejam, dan sangat sewenang-wenang, saat penguasa itu hidup bergelimangan dengan kemewahan, dan ada tanpa takut sedikitpun atas keselamatan jiwanya. Padahal, Hasan al-Basri, tak lain anak seorang budak Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, yang bernama Khairah, yang dinikahi oleh Yasaar budak dari Zaid bin Tsabit.

Sekalipun budak, di dalam Islam, tetap melahirkan keturunan yang mulia, ulama yang amat disegani dikalangan ulama di Basrah, bahkan, yang paling masyhur, kisah Umar bin Abdul Aziz, yang tak lain, juga keturunan seorang budak. Inilah keistimewaan dalam Islam.

Orang-orang yang mulia dapat lahir dari para budak, yang menjadi pembela Islam, dan menegakkan Islam, tidak kemudian nasib mereka menjadi orang-orang yang disisihkan dalam kehidupan nyata. Wallahu'alam.

Read More......

Keagungan Isteri Seorang Mujahid

Diposkan oleh Tim Embun Tarbiyah Sabtu, April 02, 2011 0 komentar


Lelaki berumur enam puluh tahun itu memasuki rumahnya di Madinah. Nyaris tak mengenali lagi rumah yang pernah ditinggalinya itu. Ia menemukan rumah itu, saat menyusuri jalan-jalan di kota Madinah, yang sudah ramai.

Rumahnya yang sangat sederhana itu, pintunya agak terbuka, dan nampak lengang. Lelaki itu meninggalkan rumahnya, tiga puluh tahun lalu, dan waktu itu isterinya masih belia, dan menjelang melahirkan anak pertamanya.

Lelaki tua itu meninggalkan Medinah pergi berjihad ke negeri yang sangat jauh. Ia berangkat bersama pasukan muslimin. Membuka Bukhara dan Samarkand, dan sekitarnya, yang terletak di Asia Tengah. Begitu jauh perjalanan jihad bersama pasukan muslimin, mengarungi samudera padang pasir, menembus perjalanan beribu-ribu mil dari kota Madinah. Sungguh sangat luar biasa para mujahidin itu. Kepergiannya dengan tekad dan tawakal kepada Allah Azza wa Jalla.

Menjelang Isya’ dengan kuda yang dituganginya itu, prajurit tua itu, memasuki kota Madinah, yang masih ramai, dan melihat kehidupan yang tidak berubah, sesudah ditinggalkannya selama tiga puluh tahun. Namun, ingatannya yang tajam, akhirnya lelaki tua itu, menemukan rumahnya kembali, yang masih tampak sederhana, dan didapati pintunya sedikit terbuka. Kegembiraan menggelayut, dan merasa yakin bertemu dengan kembali dengan isterinya yang lama ditinggalkan itu.

Si penghuni rumah melihat ada orang yang masuk rumahnya, maka lelaki yang ada di atas, langsung melompat, dan turun sambil membentak lelaki tua yang datang itu, “Engkau berani memasuki rumah dan menodai kehormatanku malam-malam, wahai musuh Allah?”. Si penghuni rumah mencengkeram leher lelaki tua, seraya mengatakan, “Wahai musuh Allah, demi Allah aku takkan melepaskanmu kecuali di muka hakim”, sergahnya.

Lelaki tua yang baru datang itu berkata, “Aku bukan musuh Allah dan bukan pernjahat. Ini rumah milikku, kudapati pintunya terbuka lalu aku masuk”. Lelaki tua itu melanjutkan, “Wahai saudara-saudara, dengarkanlah. Rumah ini milikku, kubeli dengan uangku. Wahai kaum, aku adalah Farrukh. Tiadakah seorang tetangga yang masih mengenali Farrukh yang tiga puluh tahun lalu pergi berjihad fi sabilillah?”

Bersamaan itu, ibu si empunya rumah yang sedang tidur itu bangun oleh keributan, lalu menengok dari jendela atas dan melihat suaminya sedang bergulat dengan darah dagingnya sendiri. Lidahnya nyaris tak berucap. Dengan nada yang kuat berseru, “Lepaskan .. lepaskan dia, Rabiah … lepaskan dia, putraku, dia adalah ayahmu .. dia ayahmu … Saudara-saudara sekalian tinggalkan mereka, semoga Allah memberkahi kalian. Tenanglah, Abu Abdirrahman, dia putramu .. dua putramu .. jantung hatimu …

Lalu, Ar-Rabi’ah mencium tangan ayahnya. Orang-orang meninggalkan keduanya. Setelah itu, isterinya Ummu Rabi’ah menyambut suaminya dan memberi salam. Ummu Rabi’ah tak mengira bahwa ia akan bertemu kembali dengan suaminya yang pergi berjihad selama tiga puluh tahun itu.

Saat-saat bahagia antara Farrukh dengan Ummu Rabi’ah, terkadang duduk berdua, sambil bercerita keduanya selama berpisah tiga puluh tahun. Mereka mendapatkan kebahagiaan kembali, keduanya dapat bertemu, meskipun sekarang suaminya telah berumur enam puluh tahun. Namun, saat itu muncul kekawatiran dari Ummu Rabi’ah tentang uang yang pernah dititipkan oleh suaminya dahulu, dan ia harus menjaganya. Karena uang yang dititipkan suaminya itu, habis untuk membiayai pedidikan putranya senilai 30.000 dinar. “Percayakah Farrukh bahwa pendidikan putranya itu menghabiskan 30.000 dinar”, gumam Ummu Rabi’ah.

Selagi pikirannya mengelayut itu, tiba-tiba Farrukh, yang duduk disampingnya itu berkata, “Aku membawa uang 4.000 dinar. Ambillah uang yang akut titipkan kepadamu dahulu. Kita kumpulkan lalu kita belikan kebun atau rumah, dan akan kita ambil sewanya”, ucap Farrukh kepada Ummu Rabi’ah.

Pembicaraan terputus saat adzan datang. Farrukh bergegas menuju masjid, seraya menanyakan, “Mana Ar-Rabi’ah?’ Isterinya menjawab, “Dia sudah lebih dahulu berangkat ke masjid. Saya kira engkau akan tertinggal shalat berjama’ah”. Dia segera shalat, dan sesudah itu pergi ke Rhaudah mutharah, berdo’a di dekat makam Rasulullah, karena betapa rindunya dia dengan Rasulullah.

Saat mau meninggalkan masjid, begitu ramai orang yang sedang mengelilingi seorang ulama, yang belum pernah melihat sebelumnya. Mereka duduk melingkari Sheik itu. Sampai tak ada tempat yang kosong untuk dapat berjalan. Farrukh mengamati, ternyata orang-orang yang hadir, ada yang sudah lanjut usia, anak-anak muda, mereka semua duduk sambil menghamparkan lututnya. Semuanya menghadapkan pandangan kepada Sheikh.

Farrukh itu berusaha melihat wajah Sheikh yang luar biasa itu, tetapi tak dapat, karena begitu banyaknya orang yang mengelilinginya. Sampai saat majelis itu usai. Orang-orang meninggalkan masjid. Kemudian di tengah-tengah suasana yang sudah mulai sepi itu Farrukh bertanya kepada salah seorang yang masih tinggal di masjid itu.

Farrukh: “Siapakah Sheikh yang baru saja berceramah itu?”

Fulan: “Apakah anda bukan penduduk Madinah?”

Farrukh: “Saya penduduk Madinah”.

Fulan: “Masih adakah di Madinah ini orang yang tak mengenal Sheikh yang memberikan ceramah itu?”

Farrukh: “Maaf, saya benar-benar tidak tahu, karena saya sudah meninggalkan kota ini sejak 30 tahun yang lalu, dan baru kemarin tiba”

Fulan: “Tidak apa. Duduklah sejenak, saya akan menjelaskannya. Sheikh yang anda dengarkan ceramahnya itu adalah seorang tokoh tabi’in. Termasuk diantara ulama yang paling terpandang, dialah ahli hadist di Madinah, fuqaha dan imam kami, meksipun masih sangat muda”. Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Abu Hanifah, An-Nu’man, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Sufyan Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-Auza’I, Laits bin Sa’id dan lainnya”.

Farrukh: “Tetapi anda belum menyebutkan namanya?”

Fulan: “Namanya adalah Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi”.

Farrukh: “Namanya Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi?”

Fulan: “Nama aslinya Ar-Rabi’ah, tetapi para ulama dan pemuka Madinah biasa memanggilnya Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi. Karena setiap menjumpai kesulitan tentang nash dari Kitabullah yang tidak jelas, mereka selalu bertanya kepadanya”.

Farrukh: “Anda belum menyebutkan nasabnya?”

Fulan: “Dia adalah Ar-Rabi’ah putra Farrukh yang memiliki kunyah (julukan) Abu Abdurrahman. Tak lama dilahirkan setelah ayahnya meninggalkan Madinah sebagai mujahid fi sabilillah, lalu ibunya memelihara dan mendidiknya. Tetapi sebelum shalat tadi orang-orang ramai mengatakan ayahnya telah datang kemarin malam.”

Tiba-tiba meleleh air mata Farrukh, tanpa lawan bicaranya mengerti mengapa Farrukh melelehkan air matanya.

Sesampai di rumah isterinya Ummu Rabi’ah melihat suaminya meneteskan air matanya, dan bertanya kepada suaminya, Farrukh : “Ada apa wahai Abu Abdirrahman?” Suaminya menjawab : “Tidak ada apa-apa. Aku melihat putraku berada dalam kedudukan ilu dan kehormatan yang tinggi, yang tidak kulihat pada orang lain”, tukasnya.

Di ujung kehidupan itu, Ummu Rabi’ah bertanya kepada suaminya, “Menurutmu manakah yang lebih engkau sukai, uang 30.000 dinar, atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”. Farrukh menjawab : “Demi Allah, bahkan ini lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya”, ucapnya.

Begitulah kisah generasi Tabi’in yang penuh kemuliaan, dan peranan seorang ibu yang ditinggal oleh suaminya berjihad ke negeri yang sangat jauh, selama tiga puluh, dan dapat mendidik putranya menjadi seorang ulama besar dan memiliki ilmu dan kehormatan yaitu Ar-Rabi’ah. Wallahu’alam.

Read More......

Gadis Kecil Yang Sholihah

Diposkan oleh Tim Embun Tarbiyah Selasa, Agustus 17, 2010 0 komentar



Aku akan meriwayatkan kepada Anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan Anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya:Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:

Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku mekihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit uang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit.

Maka kau bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.

Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang dibalik rok tersebut.

Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimahan. Dia adalah seorang gadis yang berpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintahkan kepada yang ma'ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.

Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:

Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata: "Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!"

Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata:

"Mama, aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam." Maka akupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.

Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah Ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.

Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dan dari kami selama ini?

Setelah pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: "Sakit ringan di kakiku." Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab:

"Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah." Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah sakit.

Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.

Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahul kabar tersebut dia sangat bergembira dan berkata: "Alhamdulillah... alhamdulillah... alhamdulillah." Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: "Wahai ummi, alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku."

Diapun bertahmid dengan suara keras, semua orang melihat dengan tercengang.Aku merasa diri kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjamah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!

Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.Sebelum Afnan memulal pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: "Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dan kepalaku."

Kami (aku, suamiku dan Afflan) pergi untuk yang pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya: "Apakah engkau seorang muslimah?" Dia menjawab: "Tidak".

Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar yang kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah dipenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. Dan di sini seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia dia masuk Islam melalui tangannya.

Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orang tuanya.

Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui Messenger. Afnan bertanya kepadanya: "Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?" Maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untuk memasang kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: "Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna." Temanku tersebut berkata: "Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan. Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati."

Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!

Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.

Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari komanya, kemudian memita air, kemudian wudhu' dan shalat, tanpa ada yang membangunkannya!!

Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.

Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya. Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kutihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum. Dia berkata: "Ummi, kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat." Kukatakan: "(Mimpi) yang baik Insya Allah." Dia berkata: "Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau, dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi."

Akupun bertanya kepadanya: "Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut," dia menjawab: "Aku menyangka bahwasanya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku." Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.

Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata: "Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu." Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata: "Aku ingin mencium pipimu yang kedua." Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: "Afnan, ucapkanlah la llaaha illallah." Maka dia berkata: "Asyhadu allaa ialaaha illallah."

Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata:"Asyhadu allaa ilaaha illallaah." Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian dia berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah." Dan keluarlah rohnya.

Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku merekapun meminnyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi rabbil 'aalamin.

Read More......

Bahaya Memanjakan Hawa Nafsu

Diposkan oleh Tim Embun Tarbiyah Senin, Juli 19, 2010 0 komentar



أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ

"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya." (QS. Al-Furqaan: 43)

Bagaimana Menghadapinya

Maha Suci Dzat yang telah menjadikan manusia disibukkan dengan berbagai urusannya masing-masing. Dia pulalah yang mengajarkan doa agar setiap urusan itu rasyada (lurus, selesai). Tuntas sempurna seperti yang diharapkan. Yang tentu ini tak bisa lepas dari rahmat (belas kasih) Allah.

Alkisah di suatu kali, ada dua orang buruh yang memikul batangan besar pohon untuk kayu bakar. Keduanya mendendangkan nasyid-nasyid yang saling bersahutan. Mereka mengucap-kan kata-kata yang sangat menghibur. Yang satu mendengarkan apa yang didendangkan temannya, dan ia mengulanginya ataupun menyahut dengan kata-kata hiburan yang lain. Begitu sebaliknya dan terus, hingga mereka sampai di tempat tujuan, menyelesaikan pekerjaannya dengan tanpa membawa beban seperti lupa akan beban yang tengah mereka pikul.

Menangkap satu isyarat dan pelajaran yang menarik dari perilaku kedua orang ini, adalah bahwa jika mereka tidak mendendangkan nasyid, pasti mereka akan merasa bahwa beban yang mereka bawa sangatlah memberatkan. Dialog mereka lewat hal ini dan pengalihan perhatian mereka dari beratnya beban kepada sesuatu yang menyenangkan lagi menghibur, dapat membuat perjalanan yang panjang tak terasa melelahkan.

Setiap manusia, siapapun ia, orang yang di dekatnya, atau kita sendiri, yang telah Allah jadikan mudah bagi mereka jalan kepada kefujuran atau ketakwaan, jalan menuju kepada dosa atau pahala, selalu diberikan pilihan untuk menyelesaikan setiap urusannya. Inilah sebenarnya apa yang diemban manusia, berat terasa olehnya dalam memikulnya, melewati perjalanan panjang hidupnya, saat ini hingga nanti akhir hayatnya di dunia. Inilah beban manusia yang jika jernih hatinya, ia akan berhenti sejenak dan berpikir, ia akan memilih bagaimana bersabar menghadapi hawa nafsunya bahkan mampu menaklukkannya.

Bisyr Al-Hafi, suatu ketika ia melakukan perjalanan dengan seorang laki-laki dari kawannya yang merasa haus dan berkata kepadanya, “Mungkinkah kita minum dari air sumur ini?”
Bisyr berkata, “Bersabarlah kita minum di sumber air yang lain saja.”
Tatkala keduanya telah sampai pada sumur yang lain, temannya berkata, “Mungkinkah kita minum dari sumber air ini?”
Bisyr berkata, “Kita minum di sumber yang lain lagi.” Demikian ia terus menerus memberi alasan setiap bertemu dengan sumber air. “Bersabarlah.” Mereka pun kembali berjalan. Sambil menoleh kepada laki-laki itu Bisyr berkata, “Begitulah semestinya dunia ini kita lewati.”

Menjadikan diri kita sabar menghadapi ujian dunia untuk tetap berada dalam ketakwaan dan ketaatan ibadah, menghibur diri dalam rangka menenangkan jiwa dengan memperbanyak pendekatan Ilahiyah, adalah cara yang benar dalam menghadapi semua urusan dunia. Berani menekan kecenderungan diri terhadap hawa nafsu atau syahwat yang mungkin sering kali melampaui batas. Bertekad bulat tegakkan jihad melawan dunia dan syahwat. Cepat menyikapi kenikmatan-kenikmatan yang menggiurkan di hadapan, agar tidak dikalahkan. Karena sesungguhnya ini adalah perang, maka berpegang- teguhlah pada keyakinan, laksana berpegangan pada tali kekang saat kuda berlari kencang. Serta beristiqamah kepada kesungguhan agar menang dalam usaha pemurnian. Sehingga akal, hati dan pikiran kita tetap pada jalur yang lurus.

Lebih Dekat Mengenalnya

Hawa nafsu atau syahwat, salah satu unsur dalam jiwa manusia yang hendaknya setiap pemilik itu mengenalnya. Hawa nafsu adalah kecenderungan tabiat terhadap apa yang sesuai dengannya. Dalam pengertian ini ia tidaklah tercela. Ibnu Qayyim berkata, “Kalaulah seseorang berpendapat bahwa hawa nafsu itu mutlak tercela, hal ini dapat dipahami karena pada umumnya hawa nafsu itu melahirkan yang haram atau mengarah kepada yang haram karena kadarnya yang melampaui batas.”

Sering kali memang, hawa nafsu itu mengajak kepada kenikmatan tanpa mempertimbangkan akibatnya. Padahal jika mengingat sebuah syair yang berbunyi, ‘Banyak kelezatan yang membunuh kebahagian’, seseorang akan lebih berhati-hati dengannya. Ia tak kan rela merasakan hubungannya renggang dengan istrinya karena nikmatnya dada berdegup berbuat serong. Ia berharap melihat anaknya tumbuh dewasa, tanpa tahu anaknya melayang di atas lezatnya asap candu narkoba. Seseorang akan merenung dalam-dalam di belakang jeruji kurungan, setelah beberapa jam yang lalu ia puaskan mengutil perabot rumah tangga di sebuah swalayan.

Hawa nafsu seperti jaring-jaring yang menjerat. Situasi yang dijumpai memaksa untuk melakukannya, setelah itu akhir dari segala pilihan adalah tangisan dan penyesalan. Mulailah terhitung banyak orang yang terperangkap dalam dosa dan tidak bisa lagi keluar.
Ketika seseorang mengikuti hawa nafsunya, walaupun tidak sampai merugikan, dia tetap akan merasakan kehinaan dalam dirinya karena posisinya yang telah kalah oleh hawa nafsu. Namun hawa nafsunya tetap berpaling dari berpikir mengenai kehinaan itu. Yang demikian ini adalah sifat daripada binatang, karena hawa nafsu tidak pernah berpikir tentang akibat, hanya saja binatang lebih bisa dimaklumi. Jadi, hawa nafsu itu tak lebih laksana binatang liar yang harus dirantai lehernya, karena ia akan menghancurkan tanaman takwa yang ada di dalam jiwa.

Tetapi perkara ini menjadi sungguh aneh. Ada banyak orang yang membiarkan hawa nafsunya melakukan apa-apa yang disenanginya, lalu menjatuhkan orang tersebut pada sesuatu yang ia sendiri pun tidak menyenanginya. Sedangkan ada pula orang yang mengekang nafsunya sekencang-kencangnya, hingga melarangnya dari hal-hal yang sebenarnya dibolehkan. Saat itulah seseorang disebut telah menzhalimi nafsunya sendiri. Padahal niatnya mencenderungkan tabiat kepada hal yang baik.

Akibat kezhalimannya terhadap nafsunya sendiri ini, ada orang yang ingin sampai pada tingkat zuhud namun makan tidak sesuai dengan kadar yang dibutuhkan tubuhnya, sehingga mengakibatkan dirinya lemah untuk melakukan kewajiban-kewajiban ibadah. Ada juga yang terlalu menekan nafsunya dengan menyendiri dan menjauhkan diri dari lingkungan, sehingga terasingkan dari manusia dengan alasan menjauh dari kehinaan makhluk dan menyatu dengan Sang Khalik. Akibatnya, justru ia tersesat terlebih meninggalkan kewajiban-kewajiban sosialnya yang utama, seperti menjenguk orang sakit, menyambung silaturahmi, berbakti kepada orang tua, ataupun berdakwah.

Jika terbuka bagi seseorang pintu-pintu menuju hal yang mubah, hal yang halal-halal saja, maka ia takkan berlebihan mempergunakanya. Berusaha terus memenuhi kewajiban-kewajiban ibadahnya dan menambah-nya dengan amalan-amalan sunnah. Demikian mereka yang mau mendidik hawa nafsunya, mengajarinya dengan kesungguhan dan memiliki semangat dan keyakinan dalam menjaga prinsip-prinsip agama. Berbeda dengan mereka yang senang membiarkan hawa nafsu memenuhi keinginannya dan memanjakannya. Maka akan tersingkaplah maksiat-maksiat yang sering dilakukan para pendosa.

Bahayanya

Bicara hawa nafsu, kita ingat sekali Allah mengisahkan Yusuf dalam Al-Qur’an Al-Karim. Ketika masalahnya mengaitkan beliau dengan hawa nafsu seorang wanita yang hampir tak terbendung. Seorang pria dihadapkan wanita cantik jelita dengan gelora birahi menyala-nyala. Kekaguman siapa sampai suasana panas membara hampir menyeret ke dalam kelamnya jurang hitam?

Seseorang yang sekali tergoda hawa nafsunya untuk merasakan kenikmatan yang diharamkan, dan ia tidak memikirkan akibatnya, ia akan ketagihan hingga diarahkan kepada satu kondisi di mana ia tidak lagi merasakan kenikmatan dengan mengikuti hawa nafsunya, karena hal itu sudah menjadi sesuatu yang biasa, biasa dengan keburukan berarti biasa dengan kehinaan. Yusuf memilih kesabaran sesaat demi selamatnya ia dari dalamnya jurang kehinaan.

Kebanyakan pelaku maksiat mungkin tidak bermaksud melakukannya. Mereka hanya lemah menahan gejolak nafsunya, tidak cermat menangkap buah kesabaran dan memahami petaka yang diakibatkan hawa nafsunya. Padahal perbedaannya seperti antara rasa manis dan pahit. Banyak keuntungan yang didapat dalam kesabaran, begitupun kerugian akan didapati jika hawa nafsu diperturutkan. Akhirnya, jika aturan-aturan Allah pun dilanggar, jadilah mereka sebagai ‘hamba’ hawa nafsunya.

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya.” (QS. Al-Furqaan: 43)

Sesungguhnya manusia lebih unggul daripada binatang, karena manusia memiliki akal yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. Jika manusia tidak mau menerima pertimbangan akal, dan merelakan hawa nafsu mengusainya, hinalah manusia dan lebih rendah derajatnya daripada makhluk tak berakal. Sungguh bahaya!

إِنْ هُمْ إِلاَّ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً

“Mereka itu tidak lain seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya daripada binatang ternak itu.”

Unta itu makan lebih banyak daripada manusia, burung pipit lebih sering melakukan hubungan seksual daripada manusia, binatang itu bebas dalam melampiaskan keinganannya tanpa pernah merasakan kesedihan dan kesusahan akibat mengikuti hawa nafsunya.

Read More......

About Me

Foto saya
Menyusuri Kehidupan Duniawi Ini… Terselip Satu Perjuangan Seorang Hamba… Menuju Ketenangan Yang Hakiki… Munajat Diri Mengejar Maghfirah… Mujahadah Dalam Mencari Keridhaan-Nya…

Labels

PESAN MORAL